Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Hantavirus

Hantavirus Jadi Sorotan, Berasal dari Hewan Pengerat, Ahli Minta Waspada Tanpa Panik

WHO menekankan pentingnya deteksi dini, pelaporan cepat, serta penguatan surveilans dan koordinasi antar sektor.

Tayang:
Istimewa/generated AI
Ilustrasi Hantavirus - Hantavirus Jadi Sorotan, Berasal dari Hewan Pengerat, Ahli Minta Waspada Tanpa Panik 

“Makin tertutup tempat itu, makin besar kemungkinan untuk berjadi. Kalau tikusnya membawa virusnya,” katanya.

Karena itu, gudang lama, loteng, rumah kosong, area lembap, hingga tempat penyimpanan barang menjadi lokasi yang perlu diwaspadai.

Menurutnya, penularan lewat kulit memang bisa terjadi, tetapi jauh lebih jarang dibanding lewat saluran napas.

“Jadi yang utama tetap melalui irupan,” lanjutnya.

Tidak Perlu Panik Berlebihan

Dokter epidemiolog sekaligus ahli kesehatan masyarakat dan lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan masyarakat memang perlu waspada, tetapi tidak perlu panik berlebihan.

Menurutnya, hingga saat ini Hantavirus memiliki karakter penularan yang sangat berbeda dibanding virus corona penyebab Covid-19.

“Data ilmiah sampai saat ini hantavirus itu sangat kecil kemungkinan jadi pandemi seperti COVID-19,” ujar Dicky saya dihubungi Tribunnews, Jumat 8 Mei 2026. 

Ia menjelaskan, reservoir utama virus ini adalah hewan pengerat seperti tikus liar, bukan manusia.

Karena itu, pola penyebarannya juga berbeda jauh dengan virus respirasi seperti SARS-CoV-2 atau influenza yang mudah menular antar manusia.

“Penularan manusia ke manusia sangat terbatas juga tidak punya efisiensi transmisi setinggi virus respiratori seperti SARS-CoV-2 atau influensa,” lanjutnya.

Dicky menjelaskan, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan.

Virus ini paling sering menyebar melalui partikel kecil di udara yang berasal dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.

“Nah penularan ke manusia itu paling sering terjadi melalui manusia ini menghirup aerosol dari urin, feses atau air liur tikus yang sakit,” jelasnya.

Artinya, seseorang bisa terinfeksi tanpa menyentuh tikus secara langsung.

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved