Waspada Fintech Ilegal, Ini Pesan Tutik Kusuma Wardhani di STIKES Buleleng

Sekitar 635 perusahaan fintech ilegal dan sebanyak 231 diantaranya sudah ditutup izinnya oleh OJK.

Waspada Fintech Ilegal, Ini Pesan Tutik Kusuma Wardhani di STIKES Buleleng
Istimewa
Tutik Kusuma Wardhani 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Anggota Komisi XI DPR RI dapil Bali, Tutik Kusuma Wardhani menggelar Seminar Nasional dengan mitra kerja Komisi XI yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di STIKES Buleleng, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, Senin (25/2/2019).

Dalam seminar bertema Perlindungan Konsumen dan Masyarakat terhadap Investasi Ilegal itu hadir 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi STIKES semester 2-4, staf, dosen, hingga Ketua STIKES Buleleng Dr Ns Made Sundayana SKep serta staf pimpinan STIKES Buleleng.

Hadir sebagai narasumber seminar yaitu anggota Komisi XI DPR RI Tutik Kusuma Wardhani SE MM MKes, Deputi Direktur Manajemen Strategis, Edukasi Perlindungan Konsumen dan Kemitraan Pemda OJK Raden Handi, dan staf edukasi dan perlindungan konsumen OJK Angga Heryadi.

Dalam sambutannya, Bunda Tutik mengatakan, kita mendengar akhir-akhir ini adanya fintech (financial technology) peer to peer lending ilegal yang jumlahnya terus bertambah, meskipun sudah banyak yang sudah ditutup OJK.

Bunda Tutik menyebutkan, tercatat sekitar 635 perusahaan fintech yang tidak terdaftar alias ilegal dan sebanyak 231 diantaranya sudah ditutup izinnya oleh OJK.

"Melalui seminar ini kita bisa belajar bagaimana ikut berpartisipasi dan mendukung penuh aksi OJK untuk memberantas fintech ilegal di Indonesia," kata caleg DPR RI dapil Bali dari Partai Demokrat ini.

"Tugas saya sebagai anggota DPR RI yang ditempatkan di komisi XI adalah membantu lembaga milik pemerintah seperti OJK untuk hadir di tengah-tengah masyarakat, menyosialisasikan tugas dan perannya dalam melindungi masyarakat dari modus-modus investasi ilegal dan fintech peer to peer lending ilegal," imbuh Bunda Tutik.

Bunda Tutik menyebutkan, perkembangan teknologi tidak bisa lagi dibendung karena justeru hampir di semua sektor sudah memanfaatkan teknologi.

"Di zaman now sebagai generasi milenial harus memapu mengikuti perkembangan teknologi. Jangan sampai tertinggal karena ketinggalan berarti tergilas oleh zaman, itu berarti menuju ke arah kematian secara perlahan, namun pasti," kata Bunda Tutik. (*)

Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved