Ikut Aksi Peringati HPI, FSPM Soroti Ketidaksetaraan antara Pekerja Laki-laki dan Perempuan

FSPM menyoroti berbagai ketidakadilan dalam sistem pekerjaan antara laki-laki dan perempuan

Ikut Aksi Peringati HPI, FSPM Soroti Ketidaksetaraan antara Pekerja Laki-laki dan Perempuan
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Aksi dari Aliansi Perempuan Bali dalam memperingati Hari Perempuan Internasional (HPI) di depan Kantor Gubernur Bali, Minggu (10/3/2019) pagi. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Bali menjadi salah satu dari 10 organisasi yang ikut dalam Aliansi Perempuan Bali.

Mereka melakukan aksi guna memperingati Hari Perempuan Internasional (HPI) yang jatuh sebelumnya pada tanggal 8 Maret 2019 di depan Kantor Gubernur Bali, Minggu (10/3/2019).

Baca: Aliansi Perempuan Bali Sampaikan 6 Tuntutan Ini dalam Aksi Peringatan Hari Perempuan Internasional

Baca: Sulap Kerang jadi Kalung dan Anting, Mulyadi Raup Untung Capai Rp 10 Juta per Bulan

Aksi yang didahului dengan berjalan kaki dari timur Lapangan Puputan Margarana, Monumen Bajra Sandi, Renon, Denpasar itu, FSPM menyoroti berbagai ketidakadilan dalam sistem pekerjaan antara laki-laki dan perempuan.

Sekretaris FSPM, Ida I Dewa Made Rai Budi Darsana mengatakan saat ini para perempuan masih dianggap sebagai pekerja 'single' sehingga pajak mereka bisa lebih besar daripada laki-laki.

Baca: Koramil 1610-01 Klungkung Manfaatkan Lahan Kosong jadi Lahan Produktif untuk Bercocok Tanam

Baca: Karakter Orang Maret Berdasarkan Tanggal Lahir, Lahir Akhir Bulan Terkenal Galak & Tidak Konsisten?

"Iya lebih besar, karena status mereka single walaupun mereka sudah berkeluarga nih. Mereka punya anak, punya suami, tapi status mereka tetap pekerja single. Ini diskriminasi yang masih kita rasakan di tempat kerja," kata dia menjelaskan.

Selain dianggap sebagai pekerja single, para perempuan juga sangat sedikit menempati posisi-posisi tertentu terutama yang sifatnya strategis.

Baca: Satgas TMMD Bangkitkan Semangat Olahraga Para Generasi Muda Banjar Tampuagan

Baca: Jelang Laga Kontra Semen Padang, Pakem Bali United Berubah Pasca Ditinggal Tiga Pemain ke Timnas

Usia pensiun tenaga kerja perempuan juga biasanya lebih cepat dibandingkan laki-laki.

"Ada yang 50 tahun. Bahkan 45 tahun mereka sudah dipensiunkan. Ini kan bagian dari bentuk diskriminasi di tempat kerja," tuturnya.

Baca: 100 Tas Belanja Ludes oleh Pedagang dan Pembeli di Pasar Badung

Baca: Ajarkan Anak Cara Mendaur Ulang Kertas di Festival Of Sosial Entrepreneurship Wave and Suistainable

Dirinya berharap ke depan adanya kesetaraan dan kesamaan antara tenaga kerja perempuan dan laki-laki.

Selain FSPM, aksi ini juga diikuti oleh organisasi lain seperti Seruni Bali, OPSI Bali, Bali WCC, FMN Denpasar, SDMN Bali, Pembaru Bali, UKM Kanaka, AMP KK, dan Puskeba.

Baca: Berburu Spot Foto Instagramable di Ulun Danu Beratan

Baca: Berbagai Lomba Meriahkan HUT Yayasan Tukad Bindu ke-2

Mereka setidaknya menyampaikan enam tuntuntan diantaranya, Cabut PP No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan, hapus diskriminasi terhadap perempuan di dunia ketenagakerjaan, khususnya di sektor pariwisata; serta hapus monopoli penguasaan tanah dan alih fungsi lahan serta jalankan reforma agraria sejati.

Selain itu mereka juga menuntut untuk bangun industri skala nasional demi kedaulatan ekonomi bangsa; hentikan kekerasan, pelecehan seksual, pemerkosaan terhadap perempuan dan anak; dan mencabut UU PT No. 12 tahun 2012. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved