Young Gen

‘Bengkel Energi’ Gaungkan Manfaat EBT di SDN 2 Petiga, Mengecas Laptop Cukup Dijemur

Di sana mereka menyaksikan bagaimana pemanfaatan EBT secara nyata di dalam kehidupan sehari-hari.

Istimewa
Komunitas Bengkel Energi melaksanakan proyek pertamanya di SD N 2 Petiga, Marga, Tabanan. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Energi fosil di Indonesia diprediksi akan habis pada tahun 2030.

Karenanya, pengembangan sumber energi baru terbarukan (EBT) kini sudah saatnya mendapat perhatian yang serius.

“Jadi apakah kita akan hidup dalam gelap gulita?” tulis anggota komunitas Bengkel Energi dalam akun media sosial facebook mereka, Minggu (7/8/2016).

Sebagai wujud partisispasi dalam pengembangan energi baru terbarukan, Komunitas Bengkel Energi melaksanakan proyek pertamanya di SD N 2 Petiga, Marga, Tabanan.

Kelas Ranger Energi dengan tag line “Ranger Energi, Barukan Energi, Barukan Negeri” ini mengajak anak-anak untuk mengenal dan belajar memanfaatkan sumber energi ramah lingkungan yang ada di sekitar mereka.

“Energi baru terbarukan memang sudah dikenal sejak dulu. Di Bali juga sudah dikembangkan microhydro dan solar panel. Namun tidak banyak yang paham dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari,” ujar koordinator acara, I Wayan Sugiri Adiyasa.

Kelas Ranger Energi ini dilakukan  dalam dua tahap yakni pada Sabtu (30/7/2016) dan Sabtu (6/8/2016).

Mereka mengemas acara semarik mungkin agar belajar layaknya bermain. Pada pertemuan pertama, para peserta belajar memahami EBT, yaitu energi dari proses alam yang berkelanjutan.

Diperkuat pula dengan contoh-contohnya, seperti pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas, angin dan matahari untuk pembangkit tenaga listrik.

“Sebagai praktiknya, kami juga mengajari mereka bagaimana membuat baling-baling yang bisa menyala. Melalui tahapan itu mereka bisa mengetahui bahwa angin yang mampu menggerakan baling-baling dapat mempengaruhi dinamo yang ada di dalamnya, sehingga mampu membuat lampu menyala,” ujar anggota Komunitas Energi, Nining Nur Diana.

Saat pertemuan kedua, peserta diajak mengunjungi rumah Agung Kayon yang lokasinya tidak jauh dari sekolah mereka.

Di sana mereka menyaksikan bagaimana pemanfaatan EBT secara nyata di dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi kami tidak dianggap berbohong. Mereka bisa menyaksikan langung,” ujar Nining.

Agung Kayon yang memanfaatkan energi surya untuk kebutuhan listriknya, menunjukkan dan menjelaskan kepada mereka peralatan yang digunakan berikut cara kerjanya. Alat-alat itu di antaranya solar panel, controller, dan aki.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved