Melarat di Pulau Surga
Memilukan, Karma dan Keluarganya di Gianyar Hidup dari Bantuan Tetangga
Insiden dua tahun silam itu terjadi saat ia menebang pohon di ketinggian 15 meter.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sementara, seekor sapi yang sempat dipelihara pun sudah terjual untuk biaya hidup dan berobat suaminya.
“Kami hanya bisa hidup dari bantuan para tetangga. Biasanya setiap hari ada tetangga yang memberikan kami nasi untuk dimakan. Sebenarnya malu, tapi mau bagaimana lagi,” keluhnya.
Terkait bantuan pemerintah, Bukti mengaku selama ini hanya mendapatkan bantuan berupa raskin.
Bantuan ini pun terkadang memberatkannya lantaran tidak punya biaya tebusan raskin.
Dan, beberapa bulan lalu, bantuan raskin tersebut sempat terhenti.
Karena itu, keluarga ini pun harus kembali minta-minta pada tetangga.
Paling disayangkan lagi, pihaknya sudah mengadukan kondisi keluarganya tersebut pada pihak banjar.
Namun hingga kini belum ada hasilnya.
“Saya sudah pernah mengadukan kondisi kami kepada kelian agar dapat bantuan, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut, katanya masih dalam proses,“ ucapnya.
Kepala Dinas Sosial Gianyar, Made Watha, saat dikonfirmasi, Senin (3/10/2016), mengaku terkejut mendengar kisah hidup keluarga Made Karma.
Sebab, hingga saat ini pihaknya belum pernah mendapatkan laporan tentang keluarga ini.
“Saya rutin ke Desa Taro, sama sekali tidak ada laporan kondisi ini dari perbekel atau kelihan dinasnya, “ ucapnya.
Pihaknya pun langsung menurunkan petugas untuk melakukan pengecekan.
Selain itu, pihaknya akan mengkoordinasikan pada Dinas Pendidikan agar anak Made Karma, Made Sandiawan mendapatkan beasiswa.
“Saya meyayangkan hal seperti ini tidak dilaporkan ke pemerintah. Hal ini menyebabkan kami seolah-olah tak peduli pada nasib masyarakat miskin,” ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/made-karma-berbaring_20161005_132458.jpg)