Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liputan Khusus

Siasat Band Bali Bertahan di Era Digital, Joni Agung Sudah Ada di 48 Digital Store

Perkembangan teknologi digital membuat sebagian band dan musisi Bali menyerah.

Tayang:
Penulis: Fauzan Al Jundi | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/Dwi Suputra
(Ilustrasi) Joni Agung 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perkembangan teknologi digital membuat sebagian band dan musisi Bali menyerah. Banyak band yang bubar karena menurunnya penjualan kaset maupun CD. Bahkan toko kaset yang tutup alias gulung tikar.

Namun tidak demikian dengan band-band berbasa Bali seperti Joni Agung & Double T, Lolot, Kis Band, hingga Jun Bintang.

Mereka justru memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan eksistensi. Selain tetap memproduksi karya-karyanya dalam bentuk fisik, mereka juga berpromosi dan menjual karya-karya mereka di media sosial.

Fenomena booming-nya musik reggae di Bali yang dimotori Joni Agung & Double T justru tak lepas dari kemajuan teknologi digital.

Band yang digawangi Joni Agung (vokalis), Dek Alit (gitar), Tilem (bass), dan Cetu (drum) ini berhasil membuat karya-karyanya makin dikenal publik lewat teknologi digital, selain tentunya perform dari panggung ke panggung.

Vokalis Joni Agung & Double T, Anak Agung Juniantara alias Joni Agung, mengungkapkan sampai saat ini sudah puluhan produk digital store yang digunakan untuk mempromosikan lagu dan karya mereka.

Ia yakin perubahan zaman tidak akan bisa membuat personelnya surut terbawa arus dan hilang begitu saja. Justru personilnya akan membaur dan memanfaatkan keadaan.

"Kami tetap berkarya dan juga mengikuti zaman. Sekarang kita sudah ada di 48 digital store dan astungkara dari berkembangnya media sosial promosi kami jauh lebih mudah hingga job konser bisa kita dapat," ujar Joni Agung kepada Tribun Bali, pekan lalu.

Joni Agung merasa terbantu dengan globalisasi, kemajuan teknologi digitial justru membuat pihaknya lebih cepat untuk mempublis karya-karya dengan biaya yang tidak terlalu mahal.

"Era digital ini kita promosinya bisa lebih bagus, jadi sangat mendukung. Kita pun lebih terpacu untuk berkarya. Sekarang pakai handphone saja sudah bisa bikin videoklip," jelasnya.

Menurut vokalis berambut gimbal ini, pengaruh digitalisasi seharusnya tidak menyurutkan semangat para musisi Bali untuk terus berkarya.

Justru dengan adanya era digital ini, musisi seharusnya bisa mengambil kesempatan untuk berkibar dan tetap eksis.

"Kita harus tetap berkarya terus, apapun yang terjadi. Sebagai seniman, jangan sampai kita berhenti berkarya walaupun ada banyak pembaharuan," tandasnya.

Lolot Band yang juga eksis di jalur rock alternatif juga sangat terbuka dengan perkembangan zaman. Mereka terus meng-update perkembangan, dan mengikuti zaman sehingga karya-karya mereka tetap bisa dinikmati oleh masyarakat.

"Yang jelas, meskipun banyak tantangan dengan perkembangan zaman, itu bukan berarti kami berhenti berkarya. Jadi Lolot tetap di jalur alternatif, tetap dalam konsep pendewasaan dalam bermusik, dan tetap dalam nuansa kritik sosial, ada budaya, ada cinta, pokoknya keseharian itu," ujar basis Lolot, Gede Lanang Wiweka, saat ditemui di Studio Lovevilive Panjer, Denpasar, Sabtu (2/6).

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved