Liputan Khusus
Siasat Band Bali Bertahan di Era Digital, Joni Agung Sudah Ada di 48 Digital Store
Perkembangan teknologi digital membuat sebagian band dan musisi Bali menyerah.
Penulis: Fauzan Al Jundi | Editor: Ady Sucipto
Vokalis Lolot, I Made Bawa, menambahkan untuk saat ini penghasilan Lolot Band juga banyak ditopang dari Youtube, selain dari hasil manggung ke sana-sini.
Saat ini, Lolot sudah mulai menggarap album baru yang berjudul "Aluh-Aluh Keweh". Teaser videoklip dari album ini sudah diunggah di akun official Lolot Band, dan full video sudah juga diunggah di Youtube. "Itu salah satu lagu bocoran untuk album berikutnya. Semua masih proses. Kami belum bisa tentukan kapan akan launching-nya," kata Made Bawa alias Pak De Lolot.
Selain memanfaatkan teknologi untuk bertahan di era serba digital ini, Lolot Band juga tetap memproduksi CD. Memang pembeli CD makin berkurang, dan pembajakan pun tetap marak.
Namun demikian mereka percaya fans sejati Lolot Band atau yang disebut dengan komunitas Bali Rocker tetap akan membeli CD dan anti dengan CD bajakan.
"Kami melihat ada fanatisme sendiri bagi orang Bali untuk mengoleksi CD dalam skala besar. Bahkan mereka bukan membeli satu CD, tapi satu orang tiga CD. Satu ditaruh di mobil, satu di rumah, dan satunya dikoleksi. Orang-orang seperti itu sebenarnya yang mengapresiasi luar biasa buat Lolot, yang membuat Lolot bisa bertahan sampai sekarang," kata Lanang Botax.
Meski banyak band yang sudah meninggalkan CD, namun tidak untuk Lolot Band. Mereka mengaku album terakhir dan yang akan datang masih akan mencetak CD. Namun tidak dalam jumlah fantastis.
"Kalau CD menurut kami masih bisa diandalkan. Paling kami cetak 1000-3000 CD," tambah basis yang juga politikus PDIP ini.
Sementara itu, vokalis Kis Band Krisna Purpa, mengakui belakangan ini mengalami kesulitan dalam menjual rekaman CD. Hal ini karena penikmat musik sekarang ini bisa langsung mendengar lagu hanya dengan membuka Youtube.
"Hak kita sebagai seniman menerima materi dari penjualan CD itu sulit kita dapatkan sekarang, yang dirugikan itu sekarang ini seperti studio rekaman," ujarnya.
Selain itu, fenomena teknologi digital ini membuat bermunculan band-band baru yang kebanyakan hanya ingin terkenal, bukan untuk berkarya dengan sungguh-sungguh di dunia musik.
"Mereka itu terjun karena panggilan hati atau hanya keren-kerenan saja, itu nanti bisa dinilai sama masyarakat dan nanti terseleksi sendiri siapa yang akan bertahan," katanya.
Namun demikian, Krisna memahami merambahnya teknologi digital tidak bisa ditolak. Dan hal ini harus dimanfaatkan untuk menunjang kariernya.
Justru dengan bantuan teknologi, karya-karya besarnya bisa diabadikan dan lebih cepat untuk mempromosikan ke publik.
"Saya nganggap adanya teknologi digital ini makin gampang untuk mempromosikan dan memproduksi karya. Dengan adanya teknologi digital banyak yang tidak mengeluarkan album tapi mulai beralih hanya mengeluarkan single karena biayanya lebih murah dan lebih cepat," jelasnya.
Eksis Lewat Medsos
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/joni-agung_20180605_082859.jpg)