Liputan Khusus
Dulu Puri Jadi Pusat Kekuasaan Raja di Bali, Namun Kini Kondisinya Memprihatinkan, Ini Sebabnya
Sejarah Bali erat terkait dengan keberadaan puri yang dulu pernah menjadi pusat kekuasaan, istananya para raja.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Tempat pemandian raja ini disebut-sebut masih sangat utuh alias belum dipermak sama sekali sejak zaman kerajaan masih berjaya dulu.
Di areal seluas 6x5 meter itu, ada lubang berbentuk persegi panjang yang kedalamannya setara tinggi orang dewasa. Di lubang itu terdapat sebuah pancoran yang airnya datang dari sumber-sumber mata air pegunungan.
“Tapi sekarang sudah tidak ada air yang keluar, entah mengapa,” kata Agung Karmanadarta.
Rumput liar di sekitar kawasan pemandian para raja ini membuat pemandangan terlihat kurang rapi.
“Ini masih utuh sekali. Belum diapa-apakan,” kata keponakan dari tokoh Puri Agung Bangli, TNI AA Gede Anom Mudita.
Sebelah kawasan istana raja terdapat tempat khusus untuk raja melakukan meditasi.
Masuk ke kawasan ini, suasana hening terasa. Tempat bersemedi dikelilingi kolam ikan, sehingga menambah kesan sakral dan khusyuk kawasan ini.
AA Made Karmadanarta yang didampingi keluarga Puri Agung Bangli, AA Gede Oka, AA Semara, dan Panglingsir Puri Kilian—Puri Agung Bangli, AA Gede Bagus Ardana-- berharap agar pemerintah lebih memperhatikan keberadaan puri sebagai pewaris adat dan budaya di Bali.
Selama ini mereka kewalahan mengurus sendiri puri yang luasnya hampir satu hektare itu, karena semua hanya dikelola secara kekeluargaan.
“Ya semoga nanti ada bantuan dari pemerintah,” harapnya.
Puri Agung Bangli terbagi menjadi delapan puri di antaranya Puri Kilian, Puri Denpasar (bukan Puri Agung Denpasar), Puri Sokadanginan, Puri Sokadawanan, Puri Kelodan, Puri Kawantanggu, Puri Penida, dan Puri Siulan.
Dalam konteks politik, pasca kemerdekaan dan setelah Indonesia menjadi negara republik, puri-puri di Bali mengalami culture shock (gegar budaya), termasuk Puri Agung Bangli.
Karena pasca kemerdekaan Indonesia berbentuk republik, dan bukan monarki (kerajaan), pengaruh dan kekuasaan puri lambat laun surut.
“Jadi dulu itu orang banyak kaget, culture shock. Itu yang besar sekali pengaruhnya, sehingga saya pikir orang-orang jarang mempersiapkan itu. Intinya, zaman itu kan pertanda permulaan modernitas. Dari zaman kerajaan ke republik demokrasi. Di sana kan tidak ada persiapan. Segala sesuatu didasarkan atas kompetisi. Hidup ini persaingan, bukan perjalanan. Hidup kehilangan marwahnya,” kata AA Karmadanarta.
Pengaruh sistem politik ini juga menyebabkan sejumlah puri mengalami keretakan, termasuk Puri Agung Bangli, yang hingga saat ini pun tidak ada yang menempati pusat istana raja.