Liputan Khusus
Dulu Puri Jadi Pusat Kekuasaan Raja di Bali, Namun Kini Kondisinya Memprihatinkan, Ini Sebabnya
Sejarah Bali erat terkait dengan keberadaan puri yang dulu pernah menjadi pusat kekuasaan, istananya para raja.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Hak-hak puri atas tanah, kata Karmadanarta, dikebiri oleh sistem demokrasi sehingga menyebabkan puri mengalami pemiskinan.
Operasional Tinggi
Denyut yang hampir senada juga bisa dirasakan di Puri Agung Klungkung. Kesunyian menyelimuti Puri Agung Klungkung saat Tribun Bali berkunjung pada Kamis (25/10) pagi.
Tidak banyak orang terlihat di puri keturunan langsung dari Majapahit ini.
Kondisi bangunan di puri yang letaknya tak jauh dari Kantor Bupati Klungkung ini juga terlihat sudah kusam dan keropos.
Dinding penyengker yang berbahan bata maupun lapisan-lapisan bangunannya sudah banyak yang keropos.
Puri yang berada di Jalan Untung Surapati, Kota Semarapura, ini terlihat bersahaja. Bangunan dan ornamen-ornamen di puri ini bisa dikatakan tak terkesan mewah.
Tak banyak tampak hiasan perada sebagaimana yang ada di sejumlah puri yang cukup memiliki kekayaan di Bali.
Seorang pria tua berpakaian sederhana keluar dari salah-satu bangunan di puri itu. Ia adalah Ida Dalem Smara Putra, Raja Klungkung ke-XII.
Pria yang juga ketua atau Panglingsir Agung Paiketan Puri-Puri Sejebag Bali ini menceritakan sejarah Puri Agung Klungkung.
“Setelah puputan Klungkung, penghuni puri banyak dibuang ke Lombok, terutama yang kecil-kecil sehingga puri di sana lama tidak ditempati. Singkat cerita, ayah saya kembali dari Lombok, dan bergaul dengan masyarakat, kemudian diminta untuk membangun kembali bangunan yang rusak, tapi tidak ada dana. Maka diputuskan membangun di sini (di Puri Agung Klungkung sekarang),” jelas Ida Dalem.
AAA Dewi Girindrawardani, dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (Unud) mengungkapkan, memang ada perbedaan yang sangat besar antara suasana puri dahulu dengan sekarang.
“Puri di mana-mana memang sepi sekali. Kita memahami bahwa semua anggota keluarga puri bersekolah dan merantau,” terang Dewi, yang berasal dari Puri Agung Karangasem, saat ditemui di kediamannya di Denpasar, Rabu (31/10).
Dewi yang hampir setiap akhir pekan datang ke Puri Agung Karangasem mengakui kini cukup berat untuk mengelola puri karena areanya yang terbilang sangat luas.
Sejauh ini, perawatan puti dilakukan secara swadaya dan swadana, yakni dari kocek keluarga puri, tanpa ada bantuan dari pemerintah.