Liputan Khusus

Dulu Puri Jadi Pusat Kekuasaan Raja di Bali, Namun Kini Kondisinya Memprihatinkan, Ini Sebabnya

Sejarah Bali erat terkait dengan keberadaan puri yang dulu pernah menjadi pusat kekuasaan, istananya para raja.

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Kondisi Gelung Agung di Puri Agung, Bangli, beberapa waktu lalu. 

“Sebenarnya kasihan sekali purinya kalau sampai rusak atau hancur. Tiang merasakan sekali kemarin, nyiram dan membersihkan puri seharian itu, karena sangat luas,” tutur Dewi.

Menurut Dewi, di era kini tidak mudah mencari seseorang yang mau bekerja di puri.

Berbeda dengan dulu ketika banyak anggota masyarakat dengan rela dan senang hati mau menjadi abdi dan parekan di puri.

Biaya operasional yang tinggi juga tidak mudah bagi puri untuk memperbaiki jika ada bangunan yang rusak.

“Setelah sekian lama, kami baru bisa melakukan renovasi,” imbuh Dewi yang juga penulis buku The Last Rajah of Karangasem ini.    

Sempat ia menerima usulan agar keluarga puri bekerjasama dengan investor untuk pemeliharaan puri yang sudah ada sejak abad ke-19 itu.

Tapi Dewi dengan tegas menolak hal itu, karena baginya kehadiran investor akan sangat berisiko.

“Investor pasti punya keinginan untuk mengatur. Makanya kami tidak mau, dengan pemerintah saja kami tetap hati-hati. Puri itu museum hidup, nilainya sangat berharga, banyak catatan sejarah di sana juga sebagai warisan budaya,” terangnya.

Saat ini pendapatan Puri Agung Karangasem juga berasal dari Taman Tirta Gangga dan Taman Ujung.  

Direktur Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Prof Dr I Wayan Sukayasa Msi, mengamini persoalan yang dialami keluarga Puri Agung Karangasem.

“Sekarang kan bukan lagi kekuasaan puri akan panjaknya. Sekarang sudah puri murni. Kalau tidak ada pekerjaan profesional, berat sekali biaya merawat puri itu. Dulu kan masih ada sistem utpeti, sekarang kan tidak ada. Ya, keluarga ini yang bertanggungjawab seluruhnya,” ungkapnya.

Ia pernah menyaksikan satu puri di bilangan Blahbatuh yang kondisinya sudah memprihatinkan.

“Lah kok puri besar bisa begini, bisa dibilang hancur itu. Ini tantangan besar sekali ini. Apakah puri ingin tetap ajeg? Sama seperti rumah tangga. Masyarakat tidak lagi memberi utpeti seperti dulu. Kalaupun ngayah, itu sama seperti ngayah ke desa pakraman,” ucapnya. (*)  

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved