Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Parasite: Pergulatan Menerobos Batas Imajiner

Film Parasite belakangan ini terus menjadi bahan perbincangan, tidak hanya di kalangan pegiat sinema senior, anak-anak mudapun tidak mau ketinggalan

Tayang:
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Irma Budiarti
Youtube/Madman
Parasite: Pergulatan Menerobos Batas Imajiner 

Di sinilah kejeniusan Bong Joon-ho. Joko Anwar menyebutnya sebagai film yang menggunakan otak dan hati.

Hingga akhir cerita, tak ada satupun adegan yang menggambarkan bagaimana tipuan keluarga miskin ini akhirnya terbongkar oleh Tuan Park dan istrinya.

Walau sebenarnya banyak sekali ketegangan-ketegangan yang mengarah ke sana.

Ternyata bukan hal-hal teknis seperti itu yang penting bagi sang sutradara. Bukan tentang siapa yang salah atau siapa yang benar.

Bukan tentang siapa yang jahat dan siapa yang baik. Dia menyadari selalu ada ruang abu-abu dalam hal apapun.

Menurut Bong, di sinilah kekuatan insting seorang sutradara dipertaruhkan.

“Sutradara hanya punya insting, itu kitab saya. Berbeda dengan ahli hukum yang memiliki buku panduan khusus. Jika di lapangan kurang puas, saya pulang dan menonton film-film para mentor.”   

Kemanusiaan dan Manusia

Persoalan manusia dan sosial kemanusiaan yang paling pelik dan kerap kali sengaja diluputkan, dimunculkan oleh Bong dengan cara yang ringan.

Satir yang elegan, humor dengan tingkat intelektual yang tinggi.

Baca: Bali United vs Perseru Badak Lampung FC, Teco Senang Stadion Penuh: Bagus Untuk Semangat Kedua Tim

Baca: 39 Toko Modern Belum Urus Izin, Satpol PP Badung Ancam Tutup Paksa Toko Bodong

Misalkan saja sebuah jendela. Bagi keluarga miskin ini, pemandangan jendela yang ia saksikan sehari-hari adalah tempat kencingnya para pemabuk tengah malam.

Namun bagi keluarga kaya, jendela adalah ruang untuk menikmati kemewahan hijau taman.

Saat hujan tiba, keluarga kaya bisa “berkemah” di halaman rumah dan menikmati puitisnya rintik itu.

Tapi bagi keluarga Kim, hujan adalah petaka yang menghanyutkan seisi rumah.

Begitu pula dengan simbol-simbol lainnya. Ia menggunakan istilah-istilah tertentu untuk mengkritisi betapa besarnya jarak antara si miskin dan si kaya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved