Parasite: Pergulatan Menerobos Batas Imajiner
Film Parasite belakangan ini terus menjadi bahan perbincangan, tidak hanya di kalangan pegiat sinema senior, anak-anak mudapun tidak mau ketinggalan
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Irma Budiarti
Mereka menyebut kalangan bawah dengan orang-orang yang baunya seperti lobak basi, bau khas kalangan yang naik kereta bawah tanah.
Kecanggihan dan propaganda sebuah perangkat smart phone tak luput dari perhatian Bong.
Ia menyematkan adegan dimana Wi-Fi kini ibarat Dewa yang menyambung hidup rakyat kecil.
Betapa kini tombol “kirim” pada perangkat itu ibarat tombol rudal buatan Korea Utara yang dalam seketika bisa menghancurkan apapun.
Begitu pula dengan barang-barang buatan Amerika Serikat yang diklaim adalah produk terbaik dan dijamin kualitasnya.
Negara yang seakan menjadi kiblat semua orang. Bong juga menghadirkan kehidupan orang-orang bunker yang ternyata adalah bagian yang eksis dalam masyarakat Korea.
Dalam bunker itulah mereka bertahun-tahun mendekap dalam kegelapan, bersembunyi dari maut.
Sebagaimana semangat Bong untuk menerobos batas-batas yang ada, film ini pun tidak bisa dikotak-kotakan hanya dalam kategori tertentu.
Apa yang dikaryakan Bong melampaui sekat-sekat yang ada. Berbahagialah kita mendapat siraman karya seni dari seorang maestro yang semoga turut memecut sisi kreatif dalam diri untuk lebih berani dan ‘liar’ mencipta dan lebih memanusiakan sisi kemanusiaan kita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/parasite-pergulatan-menerobos-batas-imajiner.jpg)