Dharma Wacana
Tri Hita Karana Hanya Wacana
Ketika orang-orang membicarakan sebuah ajaran yang adiluhung dalam agama Hindu, khususnya di Bali, selalu mengumandangkan konsep Tri Hita Karana.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
Marilah kita tingkatkan pemahaman Tri Hita Karana ke dalam bentuk estetika. Dalam estetika, akan melahirkan sebuah emosi (rasa). Rasa dalam hal ini bukan rasa sentimentil, tetapi naluri yang masuk ke wilayah nurani.
Kita juga harus menyerapi Tri Hita Karana dalam bentuk eksistensi etika. Yakni, melihat manfaat yang kita peroleh setelah kita menjalankan Tri Hita Karana.
Saya sering keliling, dan masih menyaksikan banyak orang membuang sampah ke selokan, mengakibatkan banjir. Dalam mengurai banjir, trotoar dibongkar. Berarti, estetika dan etikanya belum ada.
Padahal Hindu memiliki falsafah, bhuana agung (alam semesta) adalah bhuana alit (diri kita). “Menjaga tubuh sesungguhnya harus diikuti menjaga lingkungan. Dengan menjaga lingkungan, Anda juga menjaga tubuh Anda,”.
Dari segi religius, kita mengetahui bahwa Tuhan itu ‘Wyapi Wyapaka’ (ada di mana-mana). Artinya, Tuhan tidak hanya ada di Pura, Tuhan juga ada di alam semesta. Alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, untuk kita sebagai matrik pembungkus pembungkus. Manusia itu tidak bisa lepas dari alam.
“Karena Tuhan hadir di alam, maka hormatilah alam. Ketika kita menghormati alam, berarti kita menghormati Tuhan,”.
Faktanya, kita sering semena-sema terhadap alam, mengeksploitasi dan mencemarkan alam. Itu artinya kita telah menghancurkan bhuana alit.
Mohon maaf, beberapa kasus di galian, di tambang, selama ini banyak menimbulkan korban jiwa. Namun hal ini bukan berarti tak boleh mengeksploitasi alam, tapi kita juga harus melakukan ‘recovery’ alam.
Tri Hita Karana adalah cara kita membangun suasana hati melalui alam semesta. Sebab bagaimana pun, gelombang-gelombang alam akan menangkap getaran pikiran manusia.
Saat ini, manusia hanya fokus pada egosentris, hanya mencari cara bagaimana dia bisa hadir dan eksis tanpa memikirkan yang lain. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ida-pandita-mpu-jaya-acharya-nanda-saat-dijumpai-usai-menjadi-narasumber.jpg)