Angka Rabies Per September 168 Kasus, 92 Persen Anjing di Bali Sudah Tervaksin
Diakuinya memang masih ada beberapa kasus rabies di Bali, dimana zona merah rabies masih ada di Kabupaten Karangasem, Buleleng dan Bangli.
Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, I Wayan Mardiana membenarkan kasus rabies di Bali sejak tahun 2008 sampai 2019 telah menghabiskan anggaran mencapai Rp 378 milyar.
Lanjutnya, untuk anggaran penanggulangan rabies tahun 2019 ini Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) RI telah memberikan bantuan sejumlah Rp 18 milyar yang digunakan sebagai biaya pembelian vaksin dan biaya operasional.
Mardiana mengungkapkan sampai bulan September 2019 cakupan vaksinasi anjing di Bali mencapai 92 persen.
Diakuinya memang masih ada beberapa kasus rabies di Bali, dimana zona merah rabies masih ada di Kabupaten Karangasem, Buleleng dan Bangli.
• Rekomendasi Makanan untuk Membersihkan Pembuluh Darah & Menjaga Kesehatan Jantung
• Selama 3 Bulan, Korsel Akan Gratiskan Biaya Visa untuk WNI dan 10 Negara ASEAN Lainnya
Angka kasus rabies hingga September 2019 masih ada 168 kasus yang sifatnya insidentil terhadap anjing-anjing yang belum tervaksin.
Maka dari itu mulai September 2019 ini akan dilakukan pemvaksinan kembali terhadap anjing-anjing yang belum tervaksin dan anjing yang baru lahir.
“Ini akan kita lakukan agar bulan Desember (2019), kasus rabies benar-benar dapat kita selesaikan,” kata Mardiana saat ditemui di Lapangan Kapten Japa Denpasar, Jumat (13/9/2019).
Sebagian besar anjing yang belum tervaksin adalah anjing liar yang tidak ada pemiliknya, dan anjing-anjing yang berada di hutan sehingga menyulitkan untuk melakukan vaksinasi.
“Seperti kasus di Badung, ada anjing di tengah hutan mangrove. Jadi kesulitan petugas kami untuk menangkap anjing. Jangankan untuk memvaksin, menangkap saja sudah sulit. Itu jadi kendala,” terangnya.
• Ruang Buku di Puri Pemayun Ludes Terbakar Karena Korsleting Listrik
• Malu Rabies Dikatakan sebagai Proyek Tahunan, Dirjen Kementan: Hati Saya Menjerit
Pihaknya mengimbau kepada pemilik anjing agar memelihara dan memvaksin anjingnya dengan baik.
Terkait ancaman penyakit African Swine Fever (ASF) di Bali yang di sampaikan oleh Dirjen PKH Kementan, ia mengaku telah melakukan antisipasi dengan menyurati PT Angkasa Pura, serta Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk senantiasa melakukan pengawasan terhadap masuknya produk-produk atau sisa makanan yang dibawa oleh wisatawan dari Cina.
“Kami selalu melakukan antisipasi dan koordinasi dengan Angkasa Pura dan (Balai) Karantina (Hewan) bagaimana mencegah masuknya penyakit ini ke Bali melalui wisatawan yang membawa sisa makanan dari Tiongkok,” kata dia.
Bahkan surat resmi sudah disampaikan sejak Juli 2019 lalu. Hingga saat ini belum ditemukan kasus ASF yang terdeteksi di Bali. “Belum ada. Mudah-mudahan tidak ada. Masih aman,” ucapnya.
• Pria Ini Curi Uang Tamu di Ubud Demi Sewa PSK, Pelaku : Namanya Juga Laki-laki, Biasalah
• Kami Sampai Tak Bisa Bayar Utang dan Iuran Adat, Karyawan Perusda Jembrana Tuntut Pembayaran Gaji
Sementara itu Kabid Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Viteriner dan Pengolahan Pemasaran, Dinas PKH Provinsi Bali, Ni Made Sukerni menyampaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam penanggulangan rabies di Bali.
Masalah-masalah tersebut antara lain, pertama, dalam pemberantasan rabies dananya harus konsisten. Kedua, kesulitannya adalah pertumbuhan anjing di Bali cukup banyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kepala-dinas-peternakan-dan-kesehatan-hewan-provinsi-bali-i-wayan-mardiana-1.jpg)