Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Makan Fast Food Tanpa Rusak Program Diet, Ini Caranya

"Tidak ada makanan yang membersihkan kita jika kita memakannya dan tidak ada makanan yang mengotori kita jika kita menikmatinya."

Tayang:
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Memiliki bentuk badan ideal memang menjadi dambaan banyak orang.

Jika itu tujuanmu, sejumlah pakar dan pelatih olahraga mungkin akan menyarankanmu untuk menghindari makanan cepat saji.

Namun, seorang pelatih nutrisi punya pendapat lain.

Menurut dia, kita tetap bisa mengonsumsi makanan cepat saji kesukaan tanpa merusak diet yang dijalani. Pelatih nutrisi Graeme Tomlinson (The Fitness Chef) menjelaskan pandangannya.

Tren makan bersih yang muncul dalam beberapa waktu terakhir ini mengubah hubungan kita dengan makanan.

"Tidak ada makanan yang membersihkan kita jika kita memakannya dan tidak ada makanan yang mengotori kita jika kita menikmatinya."

Pernah Cemburu terhadap Kekasih Baru Sang Mantan? 9 Alasan Ini Bisa Jadi Penyebabnya

UMK Gianyar 2020 Dirancang Rp 2.627.000, Pemkab Sudah Serahkan Rancangan ke Pemprov

"Namun, selama bertahun-tahun, banyak selebritas dan buku resep sehat meyakinkan konsumen bahwa mereka akan 'ramping dan sehat' jika mengikuti pola makan sehat tersebut," kata Graeme.

Menurut dia, alih-alih berusaha untuk menyempurnakan asupan mikronutrien, sebaiknya kita mengevaluasi makanan yang kita nikmati secara lebih objektif.

Sebagai ilustrasi, ia membandingkan irisan kakao mentah (pengganti cokelat batangan versi sehat yang dipromosikan sejumlah selebritas influencer) dan cokelat batangan biasa.

"Makanan yang satu mungkin lebih bernutrisi, kaya serat, dan bahan makanan utuh dalam satu irisan, kalorinya hampir sama dengan tiga batang cokelat."

"Namun, yang satu diidolakan tanpa syarat sementara yang lain dipandang jahat, semata-mata karena dianggap tidak menawarkan gizi mikro yang sama," kata Graeme.

Ia menambahkan, mengonsumsi makanan berkualitas tentu sangat penting dan berkorelasi dengan penurunan lemak tubuh.

Namun, tidak berarti kita bisa mendefinisikannya.

GrabFood Signature Resmi Diluncurkan, Tersedia di 600 Outlet F&B di Indonesia Termasuk Bali

Pramusti Bali Bakal Ramaikan Festival Seni Bali Jani 2019, Ini Jadwalnya

Hitung kalori

Terlepas dari jenis makanannya, yang perlu diperhatikan adalah kuantitas kalorinya.

Graeme kemudian mengunggah grafik untuk membantu para pengikutnya di Instagram untuk memahami makanan cepat saji mana yang lebih baik daripada yang lain.

Misalnya, menuliskan kalori setiap makanan di McDonalds, seperti kentang goreng, hamburger, salad, dan lainnya, agar orang-orang mendapatkan gambaran kalori masing-masing makanan.

Sejumlah pihak mempertanyakan gaya makan Graeme ini.

Namun, sulit untuk menyangkal bahwa cara ini efektif.

Sebab, beberapa penggemar memberikan komentar tentang nilai-nilai di balik pola makan ini.

"Ketika aku masih menghakimi makanan dengan label 'baik' dan 'jahat' aku berpikir aku akan makan berlebih jika makan makanan 'jahat' meskipun hanya sedikit."

Koalisi Menuju Denpasar Satu, Agung Manik Danendra (AMD) Paparkan Visi dan Misi AMD

Penyandang Disabilitas Punya Hak Yang Sama

"Namun kini tidak. Aku bisa makan apa pun yang aku mau, dan mulai lagi besok setelah mempelajari pola makan fleksibel, serta nilai-nilai kalori di setiap makanan yabg berbeda."

"Dan jika aku makan makanan 'jahat', aku tidak lagi menghakimi diriku sendiri dan akan menikmatinya tanpa perasaan menyesal," tulis seorang perempuan.

Nah, kini mungkin kamu bisa menikmati kentang goreng gurih kesayanganmu tanpa merusak dietmu. Selamat mencoba!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Makan "Fast Food" Tanpa Rusak Program Diet, Mau Tahu Caranya?'"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved