Breaking News:

Tips Sehat untuk Anda

Mengenal Vaginismus, Kontraksi Otot Sekitar Vagina yang Bisa Disembuhkan dengan Terapi

Wanita yang mengalami kontraksi otot sekitar vagina (vaginismus) dapat terjadi tanpa disadari, juga tidak dapat dikendalikan

intisari-online.com
ilustrasi - Mengenal Vaginismus, Kontraksi Otot Sekitar Vagina yang Bisa Disembuhkan dengan Terapi 

Faktor risiko

Berikut beberapa faktor risiko terjadinya vaginismus yang perlu Anda ketahui.

- Adanya riwayat kekerasan seksual atau trauma

- Prosedur medis yang menakutkan saat masa kecil

- Hubungan seksual pertama yang menyakitkan

- Masalah pada hubungan dengan pasangan

- Halangan seksual

- Takut hamil

- Trauma rasa sakit sebelumnya akibat infeksi

- Operasi

- Kondisi ginekologis lainnya.

Jenis vaginismus

"Sebenarnya ada banyak sekali jenis vaginismus.

Kebijakan Baru Kemendikbud, Calon Mahasiswa Baru Wajib Tahu Penerapan SSO Mulai 2 Desember

Jadwal Bali International Cup 2019 U-20, Laga Hari Pertama Indonesia All Stars vs Arsenal di Dipta

Tapi secara umum ada vaginismus primer dan sekunder," ujar dr Yeni.

1. Vaginismus primer

Dikatakan sebagai vaginismus primer apabila seorang perempuan sama sekali tidak pernah bisa memiliki hubungan seksual akibat rasa sakit dan kesulitan penetrasi.

2. Vaginismus sekunder

Dikatakan sebagai vaginismus sekunder apabila seorang perempuan sebelumnya pernah menikmati seks tanpa masalah, namun kemudian mengalami vaginismus akibat trauma atau masalah medis yang memengaruhi kondisi vagina.

"Klasifikasi jenis vaginismus ini juga akan memberi perbedaan kecil yang menentukan cara pengobatan atau terapi untuk vaginismus yang diderita," kata dr Yeni.

Terapi vaginismus

Terapi untuk penderita vaginismus seharusnya merupakan kolaborasi antara psikiater dan ginekolog.

Penonton Sampai Panjat Pohon Kelapa, Perseden Tahan Imbang Persebi Bima, Buka Peluang 32 Besar

Deddy Utama Ungkap Kunci Sukses Tim Polo Air Sumbang Emas Pertama bagi Indonesia

Kombinasi terapi edukasi adalah terapi dengan dilator vagina dan pelvic physical therapy untuk meningkatkan keberhasilan terapi.

"Tapi ada juga yang hanya butuh diajak bicara, dikasi pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan terjadinya vaginismus itu, kemudian berkomunikasi dengan pasangan tanpa terapi lainnya juga bisa teratasi atau sembuh sendiri," ucap dr Yeni.

Hal yang disayangkan, kata dr Yeni, masih banyak yang merasa malu untuk mengatakan atau berkonsultasi ketika mengalami gejala vaginismus atau disfungsi seksual.

Padahal hal tersebut mengganggu hubungan intim bersama pasangan, serta tidak sedikit yang berujung pada perselingkuhan ataupun perceraian.

"Masalah ini (vaginismus dan disfungsi seksual) jarang diungkapkan, lambat didiagnosis dengan baik, dan akhirnya tatalaksana tidak dapat dilaksanakan dengan optimal, padahal ini (vaginismus dan disfungsi seksual) bisa disembuhkan," tuturnya.

(Kompas.com/Ellyvon Pranita)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Serba-serbi Vaginismus, dari Faktor Risiko sampai Terapi Pengobatan

Editor: Irma Budiarti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved