4 Kucit Bantuan Desa Manistutu Jembrana Mati, Keswan Sebut Mati Karena Diare Bukan Virus ASF

Saat merebaknya isu virus ASF yang belum ada vaksinnya mulai menyerang babi di Indonesia, empat kucit bantuan APBDes 2019 di Jembrana mati mendadak.

4 Kucit Bantuan Desa Manistutu Jembrana Mati, Keswan Sebut Mati Karena Diare Bukan Virus ASF
Tribun Bali/ I Made Ardhiangga
Kucit di Banjar Benel yang masih hidup milik salah seorang warga, Selasa (10/12/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Saat merebaknya isu virus ASF (African Swine Fever) yang belum ada vaksinnya mulai menyerang babi di Indonesia, empat kucit bantuan dari anggaran APBDes 2019 di Jembrana, mati mendadak.

Empat kucit itu mati kurang dari dua pekan setelah terdistribusi ke warga.

Namun Pihak Keswan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana menegaskan, kucit yang mati karena terserang diare.

Bukan karena virus ASF (African Swine Fever).

Diare dan dehidrasi pada kucit itu bisa terjadi dikarenakan faktor makanan dan kandang yang kurang representatif.

Jembrana Antisipasi Masuknya Virus ASF yang Menyerang Babi, Peternak Dikumpulkan & Diberi Penyuluhan

Bali Waspada Flu Babi Afrika, Ini Potensi Penyebarannya Yang Perlu Diantisipasi

Tiga Peternakan di Tabanan Nihil Virus African Swine Fever, Antisipasi Demam Babi Berujung Kematian

Pj Perbekel Desa Manistutu, I Gede Arya Widiarta mengatakan, program pemberdayaan kucit itu didistribusikan 26 November 2019 lalu.

Sebanyak tujuh kelompok ternak mendapat bagian 20 ekor.

Satu kelompok ternak ada sekitar 20 orang warga.

Untuk kucit yang mati itu ada di tiga banjar atau kelompok, yakni Banjar Benel, Banjar Tunas Mekar dan Banjar Pendem.

"Dari pihak Keswan sudah mulai awal melakukan pemeriksaan. Dan memang kucit mati itu karena diare dan cuaca," ucapnya, Selasa (10/12/2019).

Halaman
123
Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Meika Pestaria Tumanggor
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved