PT Jasamarga Bali Tol Gelar Mapakelem, Mulang Pakelem Dilaksanakan di Loloan Pura Karang Tengah

Upacara ini dilakukan dengan mempersembahkan sesajen kepada Dewa Baruna dengan ngelarung sejumlah hewan sebagai sarana sesajen ke tengah laut

Humas PT Jasamarga Bali Tol
PT Jasamarga Bali Tol gelar upacara mapakelem bertepatan dengan hari tilem sasih keenem pada tanggal 26 Desember 2019. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Umat Hindu mengajarkan kepada kita mengenai konsep Tri Hita Karana yang artinya tiga penyebab kesejahteraan yaitu parhyangan, pawongan, dan palemahan

Parhyangan artinya manusia hendaknya menjaga keharmonisan dengan Tuhan dapat diimplementasikan melalui upacara-upacara keagamaan, sembahyang, beryadnya dan lain-lain. 

Pawongan artinya manusia hendaknya menjaga keharmonisan antar sesama manusia, seperti yang kita ketahui bahwa manusia merupakan mahluk sosial yang membutuhkan satu sama lain melalui interaksi saling toleransi dan komunikasi yang baik dalam masyarakat. 

Palemahan artinya bahwa manusia hendaknya menjaga keharmonisan kepada alam atau lingkungan hidup misalnya menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga keasriannya.

Sejak Posko Terpadu Nataru Dibuka Hingga 24 Desember, Angkasa Pura I Layani 1,5 Juta Penumpang 

Lamborghini Pengemudi yang Todongkan Pistol ke Pelajar, Gunakan Plat Palsu dan Telah Rusak

Dalam rangka menerapkan konsep Tri Hita Karana dan mengimplementasi salah satu misi PT JBT yaitu “Mengoperasikan Jalan Tol Dengan Tetap Menjaga Keasrian Lingkungan Hidup dan Budaya Bali”.

Serta sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, PT Jasamarga Bali Tol gelar upacara mapakelem bertepatan dengan Hari Tilem Sasih Keenem pada tanggal 26 Desember 2019. 

 
“Kegiatan ini memohon keselamatan dan kedamaian kepada semesta,” ujar Humas PT Jasamarga Bali Tol, I Putu Gandi Ginantra, Kamis (26/12/2019).

Upacara ini dilakukan dengan mempersembahkan sesajen kepada Dewa Baruna dengan ngelarung sejumlah hewan sebagai sarana sesajen ke tengah laut di kawasan Teluk Benoa. 

Longsor dan Pohon Tumbang Terjadi di Beberapa Daerah di Karangasem

Puncak Penampakan Gerhana Matahari Cincin Terlihat Pukul 14.03 WITA Seperti Sabit

 
Sebagai rentetannya pada upacara Pemacekan Agung, upacara ini diikuti segenap karyawan di PT Jasamarga Bali Tol dengan mengambil pusat tempat upacara di Padmasana Bundaran Ngurah Rai, di areal parkiran Pura Karangasem Desa Adat Tuban Badung Bali atau mungkin lebih dikenal juga dengan kawasan Kampung Kepiting yang terletak di sisi Timur laut Bundarang Patung Ngurah Rai Tuban. 

“Selain melibatkan Karyawan PT Jasamarga Bali Tol, kegiatan ini juga melibatkan pemangku dan masyarakat Desa Tuban,” tambahnya.

Acara ini dipuput (pemimpin upacara) oleh Ida Pedanda Putra Bajing dari Griya Tegal Jingga Sumerta Kaja Denpasar ini dimulai pada pukul 09.30 Wita diawali dengan persembahyangan bersama segenap karyawan PT Jasamarga Bali Tol, Nguningang Tawur kemudian mulang pakelem (Ngelarung) berupa kambing hitam. 

Bisa Buta Setelah Lihat Gerhana Matahari dengan Mata Telanjang, Begini Penjelasan NASA

Untuk mulang pakelem dilakukan di loloan areal Pura Karang Tengah, tepatnya di sisi selatan Jalan Tol Benoa wilayah Teluk Benoa.

 
“Harapan kita semua agar kami yang bekerja dan penguna jalan yang melintas di atas Laut Teluk Benoa khususnya di Jalan Tol Bali Mandara senantiasa diberikan keselamatan dan kelancaran oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan dapat terhindar dari segala macam rintangan dan gangguan,” tuturnya.(*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved