Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

PHRI Bangli Nilai Kenaikan Retribusi ke Kintamani Terlalu Tinggi

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bangli, I Ketut Mardjana menilai pungutan pariwisata di Bangli terlalu tinggi bagi wisatawan.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Ketua PHRI Bangli, I Ketut Mardjana 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bangli, I Ketut Mardjana menilai pungutan pariwisata di Bangli terlalu tinggi bagi wisatawan.

Menurutnya, hal tersebut menjadi suatu problema tersendiri, di tengah tumbuh kembangnya pariwisata di Bangli.

Mardjana mencontohkan tingginya biaya pariwisata ke Kintamani.

Satu sisi pariwisata di wilayah sekitar sedang berkembang, di saat bersamaan pemerintah memberlakukan tarif baru retribusi masuk ke Kintamani.

Dampak Virus Corona, Harga Bawang Putih Melambung, Pasokan Menipis di Bali

3 Kesalahan Paling Umum Saat Merenovasi Rumah, Salah Satunya Terlalu Hemat

Pengambilan Sumpah Satgas PTSL Denpasar, Targetkan Tahun 2020 Semua Lahan di Denpasar Tersertifikat

“Lonjakan ini menimbulkan suatu problematika tersendiri, complain dari pelaku-pelaku pariwisata. Baik pemilik restoran, angkutan, guide, ini karena berkurang tamu-tamu yang datang akibat biaya pariwisata ke Kintamani ini mahal,” ungkapnya, Kamis (6/2/2020).

Mardjana juga menilai pungutan yang dilakukan kurang koordinasi antara pemerintah dengan instansi maupun pelaku wisata lain.

Wanita Ini Tinggalkan Suami dan Anaknya, Kini Mengaku Ditipu Pacarnya yang Bandar Narkoba

Tiga Babi Mati Mendadak di Biluk Poh Kangin Jembrana

Selundupkan 496,93 Gram Sabu dari Aceh, Supriadi Pasrah Divonis 15 Tahun Penjara

Selain retribusi, mahalnya biaya pariwisata di Kintamani juga didukung pungutan-pungutan pada objek wisata lainnya.

Mulai dari mendaki gunung, hingga ketika selfie di Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Payang yang merupakan kewenangan BKSDA.

 

“Jadi saya melihat tidak ada suatu koodinasi di antara pemerintah. Pemkabnya memungut (retribusi), BKSDA sebagi instansi memunguti, masyarakat juga memunguti biaya parkir dan lain sebagainya. Kenapa tidak ada koordinasi, Pemkab Bangli ini sebagai otoritas pemerintahan, semestinya bisa melakukan itu."

Di Tengah Wabah Flu Babi Afrika, Warung Babi Guling di Denpasar Berikan Promo Rp 1

Hasil PL Jenazah Senawati, Dokter Forensik RSUP Sanglah Temukan Luka Akibat Benda Tumpul

"Di sini saya melihat koordinasi dan konsolidasi belum ada, dan juga ketika (kunjungan) turis naik, ini berlomba-lomba menaikkan. Tidak memikirkan dampak yang terjadi terhadap kunjungan ini,” katanya.

Dari segi kunjungan secara umum ke Kintamani, Mardjana mengakui kunjungan wisatawan asal China tergolong cukup tinggi.

Berdasarkan data, rata-rata kunjungan Negara Tirai Bambu itu mencapai 800 hingga 1000 orang per hari.

Baik untuk makan siang, maupun mengunjungi tempat wisata alam.

Petugas Sweeping Anjing di Dua Desa Zona Merah Rabies di Gianyar

“Berdasarkan persentasenya, wisatawan China lebih mendominasi dibandingkan dengan Australia. Sebab wisatawan China lebih menyukai wisata alam, sedangkan Australia masih lebih menyukai pantai,” ujarnya.

Sementara disinggung kunjungan wisatawan lokal, mantan Direktur Utama PT Pos Indonesia era SBY ini mengimbau, agar pemerintah Bangli hendaknya tidak memberlakukan pungutan terlalu besar di awal.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved