Kepala BBVet Sebut Pengujian Sampel Bisa 3 Bulan, Akui Sudah Kirim Puluhan Sampel ke Medan

Tenaya menyebutkan pengujian laboratorium memerlukan waktu yang lama karena tergolong penyakit exotic dan baru.

Kepala BBVet Sebut Pengujian Sampel Bisa 3 Bulan, Akui Sudah Kirim Puluhan Sampel ke Medan
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, I Wayan Masa Tenaya 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, I Wayan Masa Tenaya menjelaskan mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) investigasi bila ditemukan penyakit eksotis baru yang menyebabkan kematian mendadak pada babi di Bali.

Menurutnya BBVet mempunyai SOP, bahwa tidak semua penyakit pada hewan harus dicek lab, yang disebut dengan istilah investigasi, atau bukan dalam rangka surveillance atau monitoring.

“Kami sudah mempunyai SOP, kalau sudah ada laporan dari dinas, baru kami turunkan tim,” kata Masa Tenaya saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Jumat (7/2/2020).

Ganjar Pranowo: Yang Saya Tunggu WNI yang Sukses, Bukan Anggota ISIS

Pukul Korban Saat Meeting, WN Iran Ditahan Jaksa

SMAN 1 Rendang Lakukan Berbagai Gerakan untuk Menumbuhkan Karakter Baik Siswa

Selanjutnya pada saat tim turun kalau ada babi yang suspect, maka darahnya langsung diambil untuk dijadikan sampel.

Diakui, sampel yang sudah dibawa ke BBVet Medan jumlahnya mencapai puluhan. Itupun dilakukan jika ditemukan penyakit-penyakit yang tidak bisa diujikan di BBVet Denpasar.

Karena BBVet Denpasar juga memungkinkan melakukan pengujian untuk beberapa penyakit seperti penyakit SE, Hog Cholera, dan Streptococcus.

Bali Berada di Posisi 26, Sosialisasi Pendidikan Pranikah Dihadiri Langsung Menteri PPPA RI

Driver Ojol Pembunuh Bos Toko Bangunan Mengaku Puas Lihat Korban Tewas, Sakit Hati Saya

Youtuber Ian Wibowo jadikan Artis TOP Malaysia Risteena Munim Pacar ke 15

Selain  ketiga penyakit tersebut sampelnya dikirim langsung ke BBVet Medan karena BBVet Denpasar tidak berwenang melakukan pengujian.

“Lain halnya penyakit SE dan penyakit Jembrana, Bali itu memang laboratorium rujukannya,” tuturnya.

Dikatakannya pengujian laboratorium memerlukan waktu yang lama karena tergolong penyakit exotic dan baru.

“Kadang-kadang virus yang berada di laboratorium fragile atau cepat berubah. Pengujian untuk Bali ini sudah sejak satu setengah bulan, sedangkan (kasus) di Medan diuji hampir tiga bulan,” jelasnya.

Yunarto Wijaya Kritik Jokowi Soal Eks ISIS: Setahu Saya Bapak Bukan Lagi Tukang Meubel

Sambut Hari Raya Galungan, TP PKK dengan WHDI Badung Gelar Bakti Sosial di Pura Antapsai Bon Petang

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved