Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

SMA Negeri 8 Denpasar Pentaskan “Ngurug Pasih”, Beri Pesan agar Rakyat Bali Cintai Tanah Leluhur

Tonggak estafet sesolahan seni sastra berlanjut di SMA Negeri 8 Denpasar dengan pementasannya yang bertajuk “Ngurug Pasih”

Penulis: Ni Kadek Rika Riyanti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Ni Kadek Rika Riyanti
Pementasan “Ngurug Pasih” oleh Sanggar Asta Gita SMA Negeri 8 Denpasar di Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, Senin (10/2/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Kadek Rika Riyanti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tonggak estafet sesolahan seni sastra berlanjut di SMA Negeri 8 Denpasar dengan pementasannya yang bertajuk “Ngurug Pasih” oleh Sanggar Asta Gita bertempat di Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, Senin (10/2/2020).

Pementasan ini masih terkait Festival Bulan Bahasa Bali 2020 yang telah berlangsung sejak awal Februari.

Dengan tajuk berbeda dari sebelumnya, Sanggar Asta Gita membawakan kisah “Ngurug Pasih” yang menceritakan tentang para investor yang ingin membeli tanah.

Mereka menghasut warga untuk menjual tanah, di mana di zaman ini keangkuhan manusia sangat besar sehingga mereka lebih mementingkan harta daripada warisan dari leluhurnya.

Perayaan Imlek di Jembrana Berlangsung Sukses, Tahun Depan Digelar Parade Barongsai

Model Seksi Nanie Darham Diciduk Polisi, Jadi Pintu Masuk ke Bandar Kokain

Tiga Alasan kenapa Pemain Bali United Harus Waspada Saat Lawan Than Quang Ninh Besok

Selang beberapa waktu, Pan Subakti yang dibujuk menjual tanahnya mendapat mimpi.

Ia bermimpi dikejar oleh Kaki Lingsir (kakek tua) atau orang yang menempati wilayah angker yang sudah dijual oleh Pan Sadya, namanya Telaga Tenget.

Oleh karena mimpinya, Pan Subakti enggan menjual dan hendak meminta kembali tanahnya kepada investor tersebut.

Tetapi, karena banyaknya akal serta bujuk rayu investor kepada Pan Subakti, akhirnya ia kembali tertarik menjual tanahnya.

Jelang Galungan, Cabai dan Bawang Putih Naik, Disperindag Bali Gelar Pasar Murah

Pelapor dan Terlapor Beda Keterangan, Satreksrim Klungkung Gelar Rekonstruksi Duel Emak-Emak

Gadis 23 Tahun Ditemukan Tewas di Samping Mesin Cuci, Polisi Ungkap Penyebab Kematian Naili

 

Mereka mencoba menasihati beliau untuk tidak menjual tanahnya dan memberitahu dampak yang akan terjadi akibat penjualan tanah itu.

Adapun ketiga muda-mudi itu menjelaskan kepada Pan Subakti, bahwa kita rakyat Bali jika menjual tanah ke orang asing, kita akan menjadi budaknya.

Pan Subakti melihat dari mata kepalanya sendiri, investor tersebut mencoba menguruk laut yang merupakan tempat suci Umat Hindu untuk melakukan pemelastian.

Meningkat 9 Persen Dibanding Tahun Sebelumnya, XL Raih Pendapatan di Atas Rata-Rata Industri

Truk Terperosok di Jurang Jalur Tengkorak Tabanan, Muat Mie Instan Sebanyak 8 Ton

Sikapi Rencana Pemberlakuan Surat Tanda Registrasi Arsitek, IAI Bali Lakukan Pertemuan

Setelah itu, murkalah Ida Bathara Hyang Baruna dan dikutuklah sang investor miskin tujuh turunan.

Singkat cerita, Pan Sadya dan istrinya juga dikutuk oleh Sang Kaki Lingsir.

Mereka berdua dikutuk dan mati seketika oleh keganasan alam.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved