Petani Buah dan Cengkeh di Desa Bukit Karangasem Mengeluh, Hasil Panen Turun
Petani buah di Banjar Jumenang mengeluh, panen turun drastis, Kerugiannya hampir 90 persen.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Petani buah di Banjar Jumenang, Desa Bukit, Kecamatan Karangasem, Bali, mengeluh lantaran panen turun drastis.
Pemicunya hujan lebat yang datang secara mendadak mengakibatkan pertumbuhn buah tak bagus.
Banyak bunganya terjatuh karena diguyur hujan cukup lama.
Nengah Kebek, petani buah asal Jumenang mengatakan, buah dan cengkeh yang ditanamnya tumbuh tak maksimal.
• Cabuli Anak Dibawah Umur, Udin Terancam 15 Tahun Penjara
• Komang Agus Diadili, Diduga Tilep Uang Nasabah Untuk Kepentingan Pribadi
• Live Streaming Bali United Tantang Svay Rieng, Target Puncak Grup G Piala AFC 2020
Hasil panennya juga sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Bunga banyak yang jatuh sebelum menjadi buah, sehingga petani banyak merugi.
Sebagian besar mengeluhkan kondisi ini.
"Disini rata - rata warganya bertani cengkeh, dan buah - buahan. Seperti durian, manggis, rambutan, cokelat, celuring, dan pisang. Banyak bunga buah berjatuhan karena diguyur hujan cukup lebat, dan lama,"kata Nengah Kebek ditemui di Jumenang, Selasa (25/2/2020).
Ditambahkan, petani buah rata - rata alami kerugian sekitar 1 - 2 juta perorang.
Biasanya petani buah dapat 2 sampai 3 juta dari penjualan buah.
Sekarang paling banyak hanya dapat 500 ribu satu kali panen.
Kerugiannya hampir 90 persen.
"Misalnya durian. Kalau nggak hujan lebat seperti sekarang, bisa dapat skitar 50 sampai 100 buah perpohonnya. Sekarang karena hujan paling banyak dpat 10 buah. Banyak jatuh bunganya,"tambah Kebek.
Kondisi sperti ini sering terjadi saat musim hujan datang.
Apalagi hujannya cukup deras.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/salkk.jpg)