Ngopi Santai

Puasa Berciuman dan Kisah Indah Corona

Coronavirus memang mensyaratkan kita mengurangi kontak fisik sehingga cium tangan atau berjabatan tangan hari-hari ini agak dibatasi.

Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Pixabay
Ilustrasi jabat tangan atau salaman 

KAMIS pagi yang adem setelah rinai gerimis menyapa Denpasar, saya menerima pesan WA yang bikin ngakak.

Pesan dari teman karib semasa kuliah yang sedang pulang kampung menemui orangtua dan keluarga.

Kendati sejak penghujung 1990-an dia bekerja di Jakarta, kalau dengan saya gaya komunikasinya tetap berdialek melayu Kupang. Isinya demikian.

“Dion e…, beta nih lagi di Kupang. Pulang tengok mama yang sakit. Maklum umur su (sudah) 79 tahun. Lu (kamu) tahu, yang bikin beta kesal, gara-gara corona beta harus tahan diri ko sonde (tidak) berciuman hidung deng (dengan) mama dan sodara (saudara) yang lain.”

Ya, coronavirus alias Covid-19 yang masih bergentanyangan itu memang bikin dongkol dunia, termasuk sebagian besar masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang punya tradisi berciuman hidung saat bersua.

Di Malaka, teritori eksotis NKRI di beranda terdepan yang berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste, bupati harus turun tangan.

Bupati Stefanus Bria Seran yang seorang dokter mewanti-wanti masyarakatnya agar hentikan dulu urusan cium hidung.

"Ciuman hidung memang budaya kita untuk saling sapa, tetapi untuk sementara, jangan dulu," ujarnya seperti diberitakan Kumparan, Selasa (3/3/2020).

Wajar bila Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran mengajak puasa cium hidung atau cium Sabu itu.

Sebab sebagian besar masyarakat NTT khususnya di Sabu, Rote, Timor dan Sumba akan merasa kurang afdal kalau tidak bersalaman “hidung bertemu hidung” yang bermula dari tradisi masyarakat Pulau Sabu tersebut.

Tradisi yang dalam bahasa Sabu disebut henge’do ini dapat dilakukan kapan, di mana pun dan dengan siapa saja, tak memandang usia, perbedaan gender, strata sosial dan lainnya.

Lazimnya dipraktikkan saat menyambut atau bertemu seseorang.

Maknanya adalah tanda persaudaraan, kekeluargaan dan penghormatan.

Hidung merupakan alat pernapasan agar manusia tetap hidup.

Masyarakat Sabu Raijua memaknai henge’do sebagai unsur yang dapat menghidupkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan walaupun baru pertama kali berjumpa.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved