Stok ARV untuk Penderita HIV Menipis, ODHIV di Bali Mulai Khawatir
Obat antiretroviral (ARV), merupakan obat yang penting untuk penderita HIV (ODHIV).
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Salah satu anggota dari Komunitas Pertiwi, Ayu, mengatakan, agar adanya transparansi dari pendistribusian obat ARV dari Dinas Kesehatan.
"Kami dari komunitas berharap adanya keterbukaan, agar orang-orang penderita HIV ini dapat menyambung hidup mereka. Karena ARV adalah hidup mereka," ujarnya.
Sedangkan, Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali mengatakan, informasi yang diperoleh dari Kementrian Kesehatan, Bali masih tergolong aman.
Meskipun di beberapa wilayah ketersediaan ARV kosong, KPA akan tetap melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan.
Dinas Kesehatan Provinsi Bali, juga sudah mengambil langkah yang cepat dengan melakukan permintaan ke Kementrian Kesehatan RI, untuk pengadaan obat ARV di Bali.
"Kami masih menunggu, kedatangan obat ARV, sudah di-order juga jadi tinggal menunggu kedatangannya. Dan kami akan terus mendukung, karena ini bicara soal nyawa agar mereka yang membutuhkan tidak kesulitan lagi," ungkapnya.
Sementara, salah satu ODHIV, Jaringan Indonesia Positif Daerah Bali mengatakan sudah mengkonsumsi ARV selama 20 tahun.
Selama mengkonsumsi obat tersebut ia merasakan sehat.
"Saya mengkonsumsi obat ARV sejak tahun 2001, jika di Bali terjadi kekosongan obat ARV maka saya dan beberapa ODHIV sangat khawatir."
"Hal tersebut akan membuat kekebalan tubuh kami terus menurun dan pelan-pelan kami tidak bisa bertahan. Maka dari itu kami mohon kepada pemerintah agar ketersediaan ARV jangan sampai kosong," jelasnya.
Sejauh ini, pengadaan ARV diambil langsung dari anggaran APBN sebesar Rp 180 miliar. Namun untuk tahun ini hanya dianggarkan sebesar Rp 90 miliar, dan sisanya di-support oleh GF (Global Fund). (*)