Babi Mati di Desa Dausa Bangli Diperkirakan Capai 300 Ekor, Tapi Belum Ada Solusi Pasti

Para peternak pun terpaksa merugi, sebab hingga Maret ini diperkirakan ratusan ekor ternak babi warga telah mati.

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Wema Satya Dinata
TRIBUN BALI/MUHAMMAD FREDEY MERCURY
Kadis PKP I Wayan Sarma 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Kematian babi di wilayah Desa Dausa, Kintamani hingga kini belum ada solusi pasti.

Para peternak pun terpaksa merugi, sebab hingga Maret ini diperkirakan ratusan ekor ternak babi warga telah mati.

Salah satu peternak sekitar bernama I Putu Eka Diana Putra, Kamis (12/3/2020) mengatakan hingga kini sudah tidak ada lagi ternak babinya yang tersisa.

 Sebab terhitung sejak Februari hingga Maret, total 52 ekor babi indukan telah mati.

Kunjungan Wisatawan Turun Drastis Akibat Wabah Covid-19, Dispar Badung Akan Gencarkan Promosi

Sumber Gempa Bumi Tektonik di Selatan Jawa Dekat dengan Sumber Gempa Dahsyat 1937

Terkendala Biaya Operasional, Mulai Bulan Mei Sampah di Karangasem Terancam Tak Terangkut

Eka juga membenarkan untuk di wilayah Desa Dausa saja, diperkirakan hingga saat ini sudah ada ratusan ternak babi yang mati.

Hal ini tidak terlepas lantaran wilayah sekitar banyak terdapat peternak babi rumahan.

“Di tempat tiang saja sudah 52 ekor yang mati, tempat sepupu tiang yang hampir berdekatan, sekitar 60an ekor yang mati. Kandang bapak saya ada 20an ekor yang mati, belum kandang tetangga-tetangga lain. Karenanya kalau tiang hitung hampir mencapai 300an ekor yang mati dalam kurun waktu Februari hingga Maret,” ungkapnya.

Dengan kematian babi sebanyak 52 ekor, Eka menyebut kerugian yang dia alami mencapai Rp 200 juta.

Sedangkan peternak lain pun diakui terpaksa tidak memelihara babi untuk sementara waktu, dan memilih untuk beralih ke pekerjaan lain.

“Ini untuk mencegah kerugian semakin besar, sebab tidak seluruh peternak memiliki modal pribadi, namun juga ada yang mengandalkan pinjaman. Kebanyakan masyarakat beralih ke pertaian, karena Desa Dausa juga merupakan daerah pertanian,” katanya.

Sementara disinggung kepastian penyebab kamatian babi dari pihak dinas, Eka mengaku sejak pihak dinas mendatangi kediamannya pada Jumat (21/2/2020) lalu, tapi hingga kini belum ada tindak lanjut apapun. Baik berupa sosialisasi maupun arahan penguburan.

“Beberapa masyarakat tidak tau ketika babinya mati harus diapakan. Ada yang hanya dibiarkan saja, bahkan hingga dibawa anjing. Disamping itu biaya penguburan juga sangat mahal. Satu ekornya bisa sampai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Kalau saya sendiri biaya penguburan sampai Rp 700 hingga Rp 1 juta, karena satu babi itu saya cari buruh hingga enam orang,” ujarnya.

Pihaknya berharap agar Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan  (PKP) Bangli untuk meningkatkan kepedulian dengan warga.

Baik dengan upaya meningkatkan sosialisasi di tiap desa, hingga membantu peternak yang masih memiliki babi untuk desinfektan kandang.

“Saya juga beraharap dinas membantu penyemprotan kandang yang sudah kosong untuk memutus rantai penyebaran virus, serta membantu para peternak untuk mendapatkan keringanan di Bank,” tandasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved