Terkait Corona, Ogoh-Ogoh di Buleleng Hanya Bisa Diarak di Desa Adat

Di tengah wabah Virus Corona, pawai ogoh-ogoh dipastikan tetap bisa dilaksanakan saat malam pengerupukan nanti.

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Majelis Desa Adat Buleleng, bersama Sekda dan PHDI Buleleng saat mengelar rapat Senin (16/3/2020). Dalam rapat tersebut disepakati pawai ogoh-ogoh tetap bisa dilaksanakan saat malam pengerupukan nanti. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA  - Di tengah wabah Virus Corona, pawai ogoh-ogoh dipastikan tetap bisa dilaksanakan saat malam pengerupukan nanti.

Hal ini telah disepakati oleh Majelis Desa Adat Buleleng, bersama Sekda Buleleng dan PHDI Buleleng dalam rapat yang digelar Senin (16/3/2020).

Ditemui seusai rapat, Ketua Majelis Desa Adat Buleleng, Dewa Putu Budarsa mengatakan, pawai ogoh-ogoh tetap dilaksanakan saat malam pengerupukan nanti, mengingat persiapan di masing-masing desa sudah mencapai 90 persen. Hanya saja, ogoh-ogoh hanya dapat diarak di wilayah desa adat masing-masing.

Para koordinator ogoh-ogoh di juga diintruksikan untuk tidak terlalu banyak menggerakkan massa.

Bandara dan Pelabuhan Banyuwangi Disterilisasi Menggunakan Disinfektan

Kekasih Tepis Rumor Meninggalnya Bule di Imam Bonjol, Umiatul: Bukan Tuak tapi karena Sakit Jantung

Aniaya Anak Pacar hingga Viral di Media Sosial, Ari Mohon Dihukum Ringan

"Sekarang jumlah ogoh-ogoh yang ada di Buleleng sebanyak 234. Anak-anak muda semangatnya tinggi sekali untuk membuat ogoh-ogoh, sehingga kami tidak bisa membatasi mereka."

"Saat ogoh-ogoh sudah selesai di arak, seluruh masyarakat harus kembali ke rumahnya masing-masing,"ucapnya.

Demikian dengan tradisi mekiis atau melasti, yang mulai dilaksanakan sejak tanggal 22 Maret nanti, pihaknya sepakat untuk membatasi para peserta.

"Proses tradisi mekiis tidak dipotong-potong. Hanya saja pesertanya harus dibatasi, ini untuk menanggulangi penyebaran Virus Corona."

Jokowi: Kita Tidak Berpikir untuk Kebijakan Lockdown, Pemda Tak Boleh Ambil Langkah Lockdown

Disdik Tabanan Terapkan Pembelajaran Online, Berikan dan Setor Hasil Tes Tulis Lewat Grup WhatsApp

"Saat ngambil tirta di Pecaruan Agung juga, biasanya masing-masing desa adat banyak mengirim anggota untuk ngambil tirta saja. Sekarang tirta bisa diambil di masing-masing kecamatan. Nanti hanya kelian desa adatnya yang ngambil tirta di kecamatan. Krama tidak usah ikut," jelasnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved