Ngopi Santai
Senyum Seorang Tukang Batu
Denpasar selalu bergerak lebih lamban dan hening di hari Minggu. Tapi tidak di sepenggal banjar bernama Kertagraha Kesiman.
Penulis: DionDBPutra | Editor: Ady Sucipto
Sebelum berpisah tanpa jabat tangan di hari Minggu yang cerah itu, saya bertanya kepada Siswanto kapan pekerjaannya memasang keramik bakal berakhir?
“Tak lama lagi Mas. Kurang lebih seminggu sudah selesai,”
jawabnya enteng.
Apa rencana selanjutnya? “Belum tahu, mungkin bertahan di sini dulu,” katanya. Bagaimana kalau tak mendapat tawaran kerja lagi di Denpasar? “Soal rezeki di Atas yang atur. Saya yakin itu.” ujarnya.
Lagi-lagi dengan senyum terkulum. Sis tak pernah kehilangan asa. Luar biasa.
Di hari yang sama, di lorong jalan Sekar Tunjung Kesiman, saya kembali bersua Mbok Marni (69). Wanita sepuh. Sudah manula alias manusia usia lanjut.
Sama seperti hari-hari yang lalu, wanita tua ini bertelanjang kaki kala menyusuri jalanan sepi hari itu dalam sengatan mentari sambil menjunjung bakul besar berisi barang-barang bekas. Dia kumpul satu
demi satu untuk dibawa ke pengepul.
Senyum dan sapaannya halus lembut. “Mau ke warung Pak?” ujarnya saat bertemuku di lorong itu.
Wajah keriputnya tanpa kehilangan senyum. Mbok Marni seolah memberi tahu, hidup hari ini memang sulit tetapi jangan terlalu takut.
Apalagi panik. Tetaplah tersenyum kepada siapa pun.
Pada wajah Siswanto, Tono dan Mbok Marni makna bersyukur itu terasa
utuh. Penuh menghangatkan kalbu. Terima kasih Gusti Allah.
Setidaknya saya masih memiliki pekerjaan tetap keimbang Siswanto, Tono dkk yang kurang sepekan dari sekarang belum tahu akan kerja apa agar asap dapur tetap mengepul.
Pulang ke kampung halaman belum tentu aman mengingat pandemi Corona tak juga memperlihatkan isyarat segera meredup.
Apalagi kalau sungguh terwujud karantina total wilayah sebagaimana rencana pemerintah DKI Jakarta.
Bahkan bukan mustahil berlaku pula di Pulau Dewata serta wilayah lain Indonesia.
Covid-19 tak semata masalah klinis. Teror psikologisnya jauh lebih keji. Namun, keteguhan hati justru bisa diperoleh dari kehidupan orang-orang kecil dan sederhana di sekitar kita.
Mereka tak banyak cakap dan diskusi tentang Corona. Mereka tetap yakin dan percaya diri menjalani hari-harinya seperti air mengalir. Menyusur sampai jauh.
Di luar sana banyak saudara-saudari kita yang jauh lebih rentan tersapu dampak pandemi Covid-19.
Tapi mereka tak kehilangan tawa dan dendang. Bagaimana dengan tuan dan puan? Bangkit dan tersenyumlah. Anda tidak sendirian! (dion db putra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-foto-orang-bahagia-dan-positif.jpg)