Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Wiki Bali

WIKI BALI - Sejarah Hingga Pembagian Wilayah Kelurahan Sumerta Denpasar

Kelurahan Sumerta merupakan dataran rendah yang terletak pada ketinggian kurang dari 15 meter di atas permukaan laut

Tayang:
Penulis: Noviana Windri | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/M Ulul Azmy
Salah satu plang jalan di Jalan Subita, Kelurahan Sumerta, Denpasar Timur, Bali. WIKI BALI - Sejarah Hingga Pembagian Wilayah Kelurahan Sumerta Denpasar 

Spirit Sewaka Dharma Sebagai Syarat Keberhasilan ‘Semangat Melayani’

MISI

  1. Memberikan pelayanan kepada Masyarakat dengan Senyum dan Ramah Tamah.
  2. Melayanai Masyarakat Dengan Tidak Membedakan Golongan Yang Ada Dalam Lapisan Masyarakat
  3. Memberikan Pelayanan Dengan Cepat dan Akurat Serta Langsung Menyentuh Kebutuhan Masyarakat
  4. Melayanai Masyarakat Yang Bersifat Mendidik, mencerahi, dan Mampu Memberdayakan Masyarakat
  5. Melayanai Masyarakat Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat.
  6. Mewujudkan Pemerintahan Yang Bersih dan Berwibawa
  7. Meningkatkan Pelayanan Publik Yang Transparan dan Efisien
  8. Mempercepat Pertumbuhan dan Memperkuat Ketahanan ekonomi Masyarakat melalui sistem ekonomi kerakyatan
  9. Mewujudkan Pemberdayaan Masyarakat Berdasarkan Kearifan Lokal dan  Budaya Kreatif

SEJARAH

Menurut tokoh-tokoh masyarakat serta didukung oleh bukti-bukti yang ditemukan yang dipakai sebagai acuan dalam penyusunan profil Kelurahan, khususnya menyangkut sejarah Kelurahan Sumerta.

Tempat atau lokasi wialyah ini dahulu bernama ‘Wongaya’ dalam perkembangan selanjutnya disebut Sumerta Wongaya dan sekarang berubah menjadi Sumerta.

Tentang kata ‘Sumerta’ diambil dari nama salah seorang pemimpin yang pernah memimpin wilayah ini saat itu.

Istilah ‘Sumerta’ yang dipakai nama Kelurahan Sumerta dapat dijumpai dalam prasasti Ki Kerobakan Badung yang antara lain berbunyi sebagai berikut.

“Walian ikang kata, ceritaneng manke tmajnira Ki Gusti Pasek Gelgel Aan, pada sihing Hyang Widhi, apasanakan rehning nalikaning rat, tembenia Gde Pasek Sumerta Tmajanira Ki Gusti Pasek Aan, angalih lungguh mareng jagat Bandana, Sira kawuwus Pasek Sumerta, muang lungguh hira laju ingaran Sumerta, apan sire Ki Pasek Gelgel Sumerta winuwus widagda wicaksana, sida pwa sira anampa sajnanira sang natheng Bandana……”

Ditugaskannya Ki Pasek Gelgel Sumerta sebagai pemegang pucuk pimpinan di wilayah Sumerta (Bandana) terjadi pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong.

Selain informasi yang bersumber dari prasasti seperti disebutkan terdahulu, juga didasarkan cerita–cerita dari para pengligsir-pelingsir.

Diceritakan, Desa Sumerta juga pernah dipimpin oleh I Gusti Ngurah Sumerta.

Hal ini dapat ditemukan dengan adanya piagam yang saat ini disimpan oleh Jro Mangku Puseh Sumerta (Banjar Sima – Sumerta Kaja) pada tahun Caka 15.

Isi dari piagam tersebut antara lain menyebutkan tentang perintah dari I Gusti Ngurah Sumerta kepada Ki Bendesa Bekung (Mangku Puseh) di Sumerta Wangaya agar membangun pura Puseh dan Pura Kebon dalam jangka waktu selama 1 (Satu) tahun dan diberikan imbalan berupa tanah atau gumi.

PEMBAGIAN WILAYAH

Dikaitkan dengan pelaksanaan administrasi pemerintahan baik pada masa penjajahan Belanda maupun Jepang serta setelah Indonesia merdeka, wilayah Desa Sumerta meliputi wilayah-wilayah Desa Adat Sumerta, dan Desa Adat Pagan dengan jumlah banjar sebanyak 21 Banjar.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved