Breaking News:

Citizen Journalism

Fetisme Gilang dalam Pandangan Psikososial

Namun, hal ini menjadi tidak wajar atau tidak normal ketika seseorang memiliki angan-angan berlebihan terhadap suatu komoditas.

Istimewa/dok.pribadi
Sosiolog Universitas Udayana, Wahyu Budi Nugroho 

Kasus fetisme seksual Gilang yang sedang heboh akhir-akhir ini kiranya dapat dimasukkan dalam klasifikasi terakhir, yakni bagaimana seseorang memperlakukan manusia layaknya benda.

Agaknya secara spesifik, kasus ini bisa digolongkan sebagai “nekrofilia”, yakni ketertarikan seksual terhadap mayat, jenazah, atau tubuh orang yang sudah meninggal—mengingat pelaku selalu meminta korbannya membungkus diri dengan kain menyerupai orang yang sudah meninggal (baca: dipocong).

 Apa yang menyebabkan seseorang memiliki perilaku demikian? Terdapat beberapa kemungkinan.

Pertama, trauma, umumnya trauma diartikan sebagai “luka yang membekas”, namun trauma dapat pula diartikan untuk hal-hal lain yang begitu membekas pada diri seseorang, dan tidak selalu harus luka.

Kedua, karena adanya trauma ini, seseorang memerlukan rangsangan seksual yang tidak wajar, berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Ia memerlukan fantasi yang “luar biasa” agar bisa menyalurkan hasrat seksualnya, sementara untuk orang-orang normal, fantasi tersebut masih biasa-biasa saja.

Di sini, menjadi menarik untuk sedikit mengkaji lebih jauh tentang apa fungsi fantasi.

6 Drakor Ini Serupa dengan ‘Vagabond’, Cocok untuk Menemani Waktu Anda di Akhir Pekan

Ibu Muda Driver Ojol Lawan Dua Begal Dini Hari, Gemeteran Saat Merebut Celurit

BREAKING NEWS : Cok Ace Sambut Kedatangan Wisatawan di Hari Pertama Pembukaan Bali Untuk Wisnus

Dalam psikoanalisis, fantasi berfungsi untuk “menjaga minat individu”. Dalam arti,  tanpa fantasi tersebut, individu tidak akan lagi memiliki minat akan sesuatu.

Sebagai misal, pada pasangan suami-istri yang telah jenuh, hubungan seks antarmereka boleh jadi melibatkan empat orang, karena suami membayangan istri sebagai wanita lain, dan begitu pula istri membayangkan suami sebagai pria lain.

Fantasi ini diperlukan agar mereka tetap berminat berhubungan seks meskipun telah jenuh. Dalam kasus Gilang, pelaku kiranya memerlukan fantasi tubuh yang sudah meninggal agar bisa menyalurkan hasrat seksualnya.

 Tubuh yang seolah sudah meninggal itu seakan merepesentasikan “kepasifan total”, dan pelaku seakan hanya bisa dirangsang oleh hal-hal semacam itu.

Halaman
123
Editor: Wema Satya Dinata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved