Manuaba Waterfall di Gianyar Masih Menerapkan Tarif Gratis, Destinasi Alam & Sejarah di Tegallalang
Manuaba Waterfall, di Kecamatan Tegallalang masih menerapkan tarif gratis untuk wisatawan yang berkunjung
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Manuaba Waterfall, di Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali, saat ini masih menerapkan tarif gratis untuk wisatawan yang berkunjung.
Meskipun demikian, objek yang berada di bawah Pura Griya Sakti Manuaba ini tetap mengedepankan protokol kesehatan, karena itu, destinasi pariwisata yang dikelola Pokdarwis Desa Kendra, ini pun telah mengantongi sertifikat operasional dari Pemkab Gianyar.
Ketua Pokdarwis Desa Kenderan, I Made Arka, Selasa (11/8/2020) mengatakan, air terjun ini berbeda dengan air terjun secara umum di Bali.
Sebab air terjun ini merupakan campuran tujuh mata air, dan tercampur dengan air terjun tersebut.
• Begitu Banyak Manfaat, Tongki Bangga Menjadi Bagian dari JKN-KIS
• Kasus Ujaran Kebencian Si Monyet Berlanjut di Pengadilan Negeri Denpasar
• Mengidap Diabetes, Sugeng Ngaku Terbantu Ketika Berobat dengan Adanya JKN-KIS
Terlebih campuran air itu merupakan sebuah tirta (air suci) yang bisa dipergunakan untuk mohon kesembuhan sejumlah penyakit.
“Keunikan Manuaba Waterfall ini adalah campuhan dari tujuh mata air suci yang disebut tirtha. Tujuh tirta itu terdiri dari Tirta Sangku, Tirta Sudamala, Tirta Sambung Dawa, Tirta Bulan, Tirta Dadapan, Tirta Gringsing dan Tirta Lindung Wesi. Sehingga air terjun Manuaba dipercayai memancarkan aura suci dan efek penyembuhan bagi yang mempercayainya,” ujarnya.
Selain itu, tujuh aliran tersebut juga berdampak pada 11 subak di Desa Kenderan.
Berdasarkan motologi, kata Arka, sumber air terjun ini ada, saat Ida Brahmana Griya Sakti Manuaba memohon air untuk persawahan kepada penguasa di Danau Batur.
Setelah itu, muncullah sembilan titik sumber air, dan tujuh di antaranya mengaliri sawah di Subak Desa Manuaba dan Kenderan.
Sedangkan dua titik sumber air mengalir ke daerah Subak Laplapan, Ubud.
“Ketujuh tirta ini juga presentasi dari Campuhan Pitu dan aliran airnya diyakini sebagai berkah kesuburan dan sarana pengelukatan dasa mala,” tandasnya.
Dalam menikmati keindahan Manuaba Waterfall, kata dia, relatif mudah.
Sebab pengunjung hanya tinggal turun dari Pura Griya Sakti Manuaba dengan cara berjalan kaki selama 15 menit.
Di tempat ini, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan air terjun, tetapi juga terdapat goa yeh daha, yang terletak di ujung barat daya waterfall.
Goa tersebut merupakan sebuah goa yang usianya sudah sangat tua.
“Pengunjung tidak perlu cemas, karena di sini kami sangat mematuhi protokol kesehatan, dan kami juga sudah mengantongi sertifikat dari pemerintah. Selain itu, pengunjung juga tidak kami pungut biaya,” ujarnya. (*)