Tips Sehat untuk Anda
Gejala dan Cara Ampuh Mengurangi Risiko Demensia atau Penyakit Pikun
Demensia atau pikun adalah penyakit yang menyebabkan sel otak memburuk dan mati lebih cepat dari biasanya,
Penulis: Noviana Windri | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Demensia, atau pikun adalah penyakit yang menyebabkan sel otak memburuk dan mati lebih cepat dari biasanya.
Demensia atau pikun bukanlah bagian dari penuaan normal lho, Tribunners.
Dokter spesialis Neurobehaviour RSUP Sanglah, Dr. dr. Anak Agung Ayu Putri Laksmi Dewi, Sp.S(K), menjelaskan, demensia atau pikun lebih dari menurunnya kemampuan mengingat.
Demensia menyebabkan penderitanya tidak dapat menjalankan kegiatan sehari-hari atau activity daily living terganggu.
Sehingga sangat tergantung kepada orang lain untuk merawat dirinya.
Gejala demensia meliputi sebagai berikut.
- gangguan fungsi daya ingat
- kesulitan berkomunikasi atau mencari kata-kata yang tepat
- kesulitan menyusun perencanaan
- kebingungan/disorientasi
- perubahan emosi
- gejala psikiatri lainnya
• Kurangi Risiko Demensia dan Tinggi DHA, 5 Jenis Makanan & Minuman yang Dapat Meningkatkan Daya Ingat
• Perempuan yang Sering Migrain Berisiko Tinggi Terserang Demensia
• Demensia Ternyata Bisa Menyerang Generasi Milenial lho, Berikut 4 Tips Sehat untuk Mencegahnya
• Peneliti Ungkap Hidup Tanpa Pasangan Bisa Tingkatkan Risiko Demensia 42 Persen
"Secara umum gejala pada demensia meliputi terganggunya fungsi daya ingat, kesulitan untuk berkomunikasi, atau mencari kata-kata yang tepat, kesulitan menyusun perencanaan, kebingungan/disorientasi, bahkan perubahan emosi dan gejala psikiatri lainnya," terangnya, dalam YouTube PKRS Sanglah yang diakses pada Rabu (16/9/2020).
Gejala-gejala tersebut bersifat progresif, artinya semakin memburuk secara bertahap seiring dengan perjalanan waktu.
Penyakit alzheimer yang merupakan penyebab demensia terbanyak di dunia dengan gejala yang muncul pada usia 65 tahun.
Namun, bisa juga mulai pada usia 50 tahun, namun disertai faktor-faktor keturunan.
Pada tahap terakhir perjalanan penyakit gangguan fungsi kognitif diperparah dengan munculnya gangguan psikiatri, misalnya sebagai berikut.
- gangguan emosi
- depresi atau kecemasan, bahkan disertai halusinasi,
- gangguan tidur
• Belot dari China, Ahli Virologi Ungkap China pembuat Virus Covid-19
• Profil Sekda DKI Jakarta Saefullah, Meninggal karena Covid-19, Awal Karier Jadi Guru Hingga Sekda
• Daftar Harga Terbaru HP Vivo September 2020: Vivo Y Series Mulai Rp 1,5 Jutaan, X50 Rp 6,9 Jutaan
• Ahok Mengaku Sempat Emosi dengan Direksi Pertamina Karena Omongan Tentang Dirinya
"Upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya demensia ini adalah membiasakan diri hidup sehat sejak dini. Bisa dengan diet sehat, olahraga rutin, contoh dengan berjalan 30 menit di bawah sinar matahari pagi cukup 2-3 kali dalam seminggu, tidur teratur, stop merokok, dan bisa mendengarkan musik yang irama lambat dan suara yang lembut," ujarnya.
Selain itu juga bisa terus menerus secara teratur memelihara fungsi kognitif dengan terus belajar, membaca, menghitung, berbelanja, aktif bersosialisasi di masyarakat atau kelompok lansia, atau bisa juga dengan cara antar jemput cucu ke sekolah.
Jika dalam kearifan lokal budaya Bali, penderita bisa ikut dalam kelompok mekidung, menari, megamel, kelompok membuat banten, dan kegiatan di masyarakat yang dapat menstimulus otak.
Apabila ada yang mengalami gangguan memori sekecil apapun disarankan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis syaraf dengan keahlian menangani demensia.
Kategori Demensia
Seperti dikatakan Dokter spesialis Neurobehaviour RSUP Sanglah, Dr. dr. Anak Agung Ayu Putri Laksmi Dewi, Sp.S(K), sebelumnya, demensia atau pikun lebih dari menurunnya kemampuan mengingat.
• Perempuan yang Sering Migrain Berisiko Tinggi Terserang Demensia
• Waspada Efek Dari Kesepian, Dapat Menyebabkan Bunuh Diri Hingga Alzheimer, Begini Cara Mengatasinya
• Mengenal Alzheimer, Penurunan Memori Berpikir yang Bisa Dicegah dengan Kehidupan Sosial yang Aktif
• Cegah Alzheimer dengan Belajar Bahasa Asing, Diantaranya Bahasa Rusia
Demensia menyebabkan penderitanya tidak dapat menjalankan kegiatan sehari-hari atau activity daily living terganggu.
Sehingga sangat tergantung kepada orang lain untuk merawat dirinya.
"Demensia juga memengaruhi perilaku, perasaan, kemampuan bersosialisasi dan status kesehatan seseorang secara keseluruhan. Dari sisi ekonomi juga demensia menjadi beban besar keluarga dan masyarakat," jelasnya dalam youtube PKRS Sanglah.
Proses berpikir penderita demensia berlangsung lebih lambat, namun semakin lama semakin buruk.
Sehingga memengaruhi fungsi seseorang dalam melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari.
Berdasarkan proses patologis yang mendasari demensia dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar.
Yaitu demensia primer dan demensia sekunder.
• Tidak Hanya Stres dan Depresi, Kesepian juga Bikin Orang Cepat Pikun
• Kurang Mengonsumsi Garam Dapat Sebabkan Pikun, Berikut Faktor Risiko Lainnya
• Disebabkan Pola Hidup Saat Muda, Ahli: Jangan Maklum dengan Pikun
"Demensia sekunder yaitu demensia yang berhubungan dengan penyakit tertentu pada otak. Pada kelompok ini demensia masih bersifat revesibel, artinya masih bisa membaik jika proses patologis yang mendasarinya bisa diatasi. Contohnya demensia terjadi setelah stroke. Biasanya 6 bulan setelah stroke," tambahnya.
Kemudian tumor otak, penyalahgunaan alkohol dan obat dalam jangka panjang, pendarahan subdural, kekurangan vitamin B12 anemia kronis, hipotiroid, dan hipertiroid.
Demensia primer atau kelompok kedua ini disebabkan oleh proses degeneratif penuaan yang bersifat irreversibel artinya tidak bisa dihambat perkembangan pada otak.
Hal tersebut menyebabkan atropi atau mengecilnya bagian tertentu pada otak.
Contohnya adalah alzheimer, emensialewibody, demensia parkinson, demensiafrontotemporal.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasimenderita-demensia-tips-kesehatan.jpg)