TPA Mandung Timbulkan Polusi Udara, Warga Minta Pemerintah Sediakan Solusi & Alat Ukur Kadar Udara

TPA Mandung Timbulkan Polusi Udara, Warga Minta Pemerintah Sediakan Solusi dan Alat Ukur Kadar Udara, DLH Tiap Hari Lakukan Penyemprotan

Istimewa
Foto : Sejumlah petugas melakukan penyemprotan sebagai upaya pemadaman asap yang masih muncul di TPA Mandung, Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Rabu (23/9/2020) lalu. 

TRIBUN-BALI.COM,TABANAN - Asap yang ditimbulkan dari kebakaran sampah di TPA Mandung, Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Bali, menimbulkan polusi udara dan masih belum ada solusi.

Bahkan, dampak polusi udara tersebut dirasakan oleh warga di sejumlah desa.

Warga sekitar yang terdampak pun mengeluhkan dengan kondisi saat ini karena mengakibatkan berbagai dampak khususnya kesehatan.

"Sebenarnya asap ini sudah ada sejak kebakaran TPA 2019 lalu. Tapi yang terparah itu terjadi pekan lalu (Senin) sebelum Hari Raya Galungan," ungkap seorang warga asal Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, I Wayan Ari Sadewa saat dihubungi, Jumat (25/9/2020).

4 Arti Mimpi Tentang Pisang, Makan Pisang Berhubungan Dengan Kebahagiaan

Pernah Mengalami Kaki Kram Saat Tidur? Mungkin 6 Hal Ini Penyebabnya

Mati Rasa hingga Nyeri, 3 Gejala Saraf Kejepit yang Perlu Diwaspadai

Ari melanjutkan, kondisi polusi udara ini mengakibatkan sejumlah desa terdampak terutama yang berbatasan dengan wilayah TPA Mandung.

Diantaranya seperti Desa Kukuh, Kerambitan, Baturiti, Samsam, dan beberapa lagi.

"Jadi akibatnya membuat aktivitas masyarakat terganggu terutama para warta yang berprofesi sebagai petani yang lahannya dekat dengan TPA tersebut," keluhnya.

Terkait hal tersebut, Ari mengatakan, sudah melaporkan kondisi tersebut ke pemerintah Tabanan melalui Pemerintah Desa Kukuh.

Sehingga diharapkan pemerintah dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup bisa mengambil langkah jangka pendek untuk menghilangkan asap yang ditimbulkan.

Selain itu, jika asap masih mengepul pemerintah juga bisa memang alat ukur kadar udara agar masyarakat setempat bisa melakukan aktivitasnya ketika udara tak terkontaminasi.

"Mungkin jangka pendek lebih penting karena saat ini ada dampaknya. Minimal pemerintah bisa menyediakan alat ukur kadar udara agar masyarakat mengetahui saat apa bisa melakukan aktivitas agar tak menghirup udara polusi tersebut," harapnya.

Terkait kondisi tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tabanan, I Made Subagia mengatakan, pihaknya sudah berupaya untuk meminimalisir terjadinya kebakaran dan timbulnya asap.

Menurutnya, saat ini titik api sudah tak ada lagi, namun justru titik asap yang masih belum bisa diatasi.

"Saat ini tidak ada api, tapi masih muncul titik asap tersebut. Kami sudah berupaya mengatasinya, bahkan setiap pagi tim kami melakukan pemadaman asap dengan penyiraman," katanya.

Disinggung mengenai solusi untuk pemadaman asap yang dikhawatirkan warga tersebut, Subagia menyatakan langkah yang tercepat akan dilakukan adalah mencari sumber titik asap tersebut.

"Solusinya adalah menggunakan alat berat untuk menggali asap dan minta tolong kepada tim damkar untuk membantu penyiraman titik asap tersebut nantinya. Semoga cara ini bisa berhasil," tandasnya.(*).

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved