Pertama Kali Terjadi, Cakupan Vaksinasi Rabies di Bangli Baru 27 Persen
Sarma mengatakan cakupan vaksinasi 27 persen merupakan pertama kalinya terjadi. Sebab di tahun-tahun sebelumnya, memasuki akhir bulan Oktober jumlah
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Cakupan vaksinasi rabies di Bangli tahun 2020 di Bangli hingga akhir bulan Oktober ini masih masih tergolong minim.
Pihak dinas pun pesimistis, hingga akhir tahun 2020, target vaksinasi mencapai 50 persen.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma, Jumat (30/10/2020).
Ia mengatakan hingga kini untuk tahun 2020 realisasi vaksinasi rabies mencapai 27 persen dari total populasi baik anjing, kucing, dan kera.
Baca juga: Pemkab Jembrana Ikut Serta Panen Perdana Pisang Cavendish Kualitas Ekspor
Baca juga: Mendagri dan Mantan Kapolri, Berapa Harta Kekayaan Tito Karnavian?
Baca juga: Kontraksi Palsu Kehamilan Berbahaya jika Ditandai dengan Hal Ini
“Total target populasi di Bangli mencapai 12.023. Di antaranya 12.006 ekor anjing, 16 ekor kucing, dan seekor kera,” sebutnya.
Sarma mengatakan cakupan vaksinasi 27 persen merupakan pertama kalinya terjadi.
Sebab di tahun-tahun sebelumnya, memasuki akhir bulan Oktober jumlah cakupan vaksinasi biasanya telah mencapai 70 persen.
Kendati demikian, pihaknya menegaskan jumlah tersebut menempatkan Bangli pada peringkat ke-empat.
“Memang dari jumlah target vaksinasi jumlah ini masih seperempat kurang. Namun dari sembilan kabupaten/kota di Bali, kita ada di urutan empat. Tidak jelek-jelek amat angka 27 persen itu,” ucapnya.
Baca juga: Anak Jennifer Jill Ancam Ajun Perwira Jika Selingkuhi Ibunya
Baca juga: Diskop Tabanan Terima Laporan Satu Koperasi Kesulitan Dana Selama Pandemi
Baca juga: Dua Wisatawan Nekat Terjun dari Tebing, Direkam Petugas saat Mendekati Tebing
Minimnya angka realisasi rabies lantaran dalam upaya vaksinasi masal, menurut Sarma, karena pihaknya mengalami kendala akibat merebaknya virus corona.
Di samping itu, juga terkendala biaya operasional dari pemerintah provinsi.
Lanjut dijelaskan, dana operasional digunakan untuk membiayai tenaga-tenaga ahli vaksinasi di desa masing-masing.
Dengan demikian, proses vaksinasi mampu dilaksanakan lebih cepat.
Sebab itu pula dengan tidak adanya dana operasional, Sarma pesimistis cakupan vaksinasi hingga akhir tahun 2020 tak mampu menyentuh angka 50 persen.
Baca juga: Daya Tarik Tanaman Hias Meningkat di Tengah Pandemi, Berikut Kiat Renato Hindari Penipuan
Baca juga: Restorasi Terumbu Karang di Pantai Pandawa, Warga yang Bantu Pengerjaan Dapat Rp 110 Ribu Per Hari
Menurutnya angka maksimal yang mampu ter-cover 45 persen saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petugas-dinas-pkp-bangli-ketika-melakukan-vaksinasi-anjing-belum-lama-ini.jpg)