Kurangi Sumbangan Sampah ke TPA hingga Hasilkan Kompos Sendiri, DLH Tabanan Bentuk Teba Komposter

Dinas Lingkungan Hidup Tabanan meminta masyarakat secara keseluruhan untuk mengolah sampah dengan teknologi komposter skala rumah tangga yang bernama

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tabanan, I Made Subagia saat memperlihatkan ember teba komposter dan cara penggunaannya di kantornya, Selasa (10/11). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Di tengah situasi dan kondisi saat ini, masyarakat cenderung lebih dominan menghasilkan sampah daripada mengolah sampah menjadi hal yang bermanfaat.

Sehingga, Dinas Lingkungan Hidup Tabanan meminta masyarakat secara keseluruhan untuk mengolah sampah dengan teknologi komposter skala rumah tangga yang bernama teba komposter.

Pemerintah juga menyebut penggunaan teba komposter juga selaras dengan kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber sesuai Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019.

Baca juga: KPU Badung Cetak 372.493 Surat Suara, Ditargetkan Selesai 23 November Mendatang

Baca juga: Mahasiswa di Buleleng Ini Resmi Ditetapkan sebagai Tersangka ke-11 Atas Kasus Persetubuhan Siswi SMP

Baca juga: Diawali Matur Piuning, Prosesi Maboros Mulai Dilakukan Subak Badung dalam Rangkaian Ngaben Bikul

Sebab, banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika sudah menerapkan seperti mengurangi sampah organik ke TPA, kebiasaan memilah sampah organis dan anorganik, dan hasil dari pengolahan tersebut bisa menjadi pupuk yang nantinya berguna untuk tumbuhan di sekitar.

Metode teba komposter ini sangat cocok jika diterapkan di rumah masing-masing terutama yang tinggal di perumahan. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tabanan, I Made Subagia menuturkan, sebelumnya salah satu komunitas sempat memperkenalkan teba komposter.

Teba komposter adalah suatu teknologi sebagai aplikasi kehidupan kita di masa lalu, sebab dulunya orang tua terdahulu pernah punya lahan yang luas dan pada sisi pinggir digunakan sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga.

Baca juga: Pengakuan Kadek Tersangka ke-11 yang Nekat Setubuhi di Gubuk Siswi SMP di Buleleng,Terhasut Ini

Baca juga: Pemprov Bali Belum Bersikap Soal RUU Pelarangan Minuman Beralkohol

Baca juga: Ajukan Tawaran Resmi, Man United Siap Bawa Pulang Cristiano Ronaldo

Artinya dulunya leluhur kita memanfaatkan teba (halaman belakang) sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga.

Limbah tersebut kemudian secara alami menjadi kompos dan hasilnya bisa digunakan sebagai media tanam alami hortikultura yang tentu hasilnya akan kembali lagi ke dapur.

"Bukan diharapkan lagi, seperti masyarakat mulai sekarang berpikir bagaimana cara menangani sampah berbasis sumber atau skla rumah tangga. Artinya kita sendiri harus bisa menyelesaikan masalah sampah yang ada di rumah kita dulu," kata Made Subagia, Jumat (13/11/2020). 

Menurutnya, di era saat ini atau sejak beberapa tahun lalu masyarakat (terutama tinggal di perumahan) justru jarang yang memiliki teba atau halaman belakang, khususnya di daerah kota.

Sehingga, hal ini menjadi PR bersama dengan cara mulai mensosialisasikan atau memperkenalkan modifikasi pengolahan sampah organik yang bernama tekonologi komposter skala rumah tangga dengan menggunakan ember yang mampu menampung minimal 20 kilogram sampah rumah tangga.

Kemudian untuk sampah anorganik atau plastik di rumah tangga bisa dikerjasamakan dengan bank sampah.

"Jadi nantinya, setiap hari masyarakat bisa menerapkan pengolahan sampah berbasis sumber yakni sampah rumah tangga dengan tekonologi komposter ini yang nantinya bisa menjadi kompos," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved