Breaking News:

Cerita Hakim Wawan, Iba kepada 5 Terdakwa Kasus Penjualan Arak, Biaya Perkara dan Denda Dibayarinya

Wawan pun mengeluarkan uang pribadinya untuk membayarkan denda yang harus dibayar kelima orang  tersebut.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Kambali
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Hakim PN Gianyar, Wawan Edi Prastiyo ketika memimpin sidang di PN Gianyar, Rabu (18/11/2020). Ia membayari biaya perkara dan denda kepada 5 terdakwa penjualan arak. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Sebanyak lima orang penjual arak menjalani sidang tindak pidana ringan (Tipiring) di Pengadilan Negeri (PN) Gianyar, Bali pada Rabu (18/11/2020).

Majelis Hakim PN Gianyar, Wawan Edi Prastiyo pun merasa iba terhadap masyarakat kecil tersebut.

Wawan pun mengeluarkan uang pribadinya untuk membayarkan denda yang harus dibayar kelima orang  tersebut.

Diketahui, para terdakwa ini hanya pedagang kecil.

Pendapatan sehari-hari mereka dari berjualan arak ini hampir belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Hakim PN Gianyar Bayarkan Denda 5 Penjual Arak, Sosialisasi Perda Tentang Arak Dinilai Tak Jelas

Sebelum pandemi, sebagian sejumlah terdakwa bekerja di bidang pariwisata.

“Kalau ada sidang seperti ini lagi, saya akan pimpin. Kasihan, mereka menerima-menerima saja. Ketika masyarakat kecil jualan arak kenapa ditangkap. Kita juga wajib dan harus mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, dalam Perda tersebut, penjualan arak tetap tidak boleh sembarangan.

Di mana terdapat batasan-batasan memperjualbelikan arak.

Baca juga: Jelang Hadapi Sidang Putusan Kamis Besok, Begini Harapan Jerinx ke Majelis Hakim

Seperti, tidak boleh menjual pada anak-anak, tak boleh dijual di tempat olahraga, di tempat keagamaan dan harus berlebel.

Namun selama ini, masyarakat hanya mengetahui bahwa arak sudah legal.  

Dalam sidang tersebut, Wawan sempat menyuruh seorang terdakwa untuk menunjukkan uang yang ada di dompetnya.

Satu di antara terdakwa pun menunjukkan uang yang dibawanya Rp 300 ribu.

Melihat hal tersebut, Wawan mengaku iba.

Sebab dengan uang segitu, di era saat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih yang bersangkutan memiliki anak yang masih kecil dan seorang istri. 

Baca juga: Babak Krusial Jerinx di Persidangan: Bu Hakim, Saya Masih Ada Utang Cucu Pertama Ke Orangtua

“Ini masyarakat sudah susah menyambung hidup, dan pemerintah menyuarakan legalisasi arak, kenapa rakyat harus ditangkap?” tandasnya.

Kelima terdakwa ini tidak ditahan.

Mereka hanya dikenakan denda.

Kebaikan hakim PN Gianyar tak hanya di situ.

Namun, penjualan arak tanpa lebel atau tak berizin yang seharusnya didenda Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu per orang ini, dalam situasi krisis ini, majelis hakim hanya menjatuhkan denda Rp 15 ribu per orang.

Namun keringanan itu lebih ringan lagi karena Hakim Wawan sendiri yang membayarkan denda beserta biaya perkaranya. 

"Semoga ini menjadi pelajaran buat kita semua ke depannya. Biar masyarakat kecil tidak terus-terusan yang menjadi korban," ujar Wawan.

Baca juga: Gisel Akhirnya Muncul Dan Beri Pengakuan Soal Cacat Besar Dalam Hidup Dan Banyak Penghakiman 

5 Orang Terdakwa

Berdasarkan data PN GIanyar, kelima terdakwa tersebut di antaranya, I Wayan Mudita (46) asal Banjar Buduk, Desa Singakerta, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Pria yang bekerja sebagai supir tersebut diamankan Satreskrim Polres Gianyar karena membawa arak yang ditaruh dalam botol minuman mineral 500 mililiter (ml) untuk dijual tanpa dilengkapi SIUP-MB dan tempat izin penjualan minuman arak.

Dia ditangkap di warungnya di Banjar Buduk, Kamis (12/11/2020).

Terdakwa lainnya, I Wayan Brena (46) asal Banjar Kucupin, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.

Ia ditangkap di sebuah kafe di By Pass IB Mantra, Ketewel, Kecamatan Sukawati karena menjual 2 botol arak, yang masing-masing botol berisi 1,5 liter, Kamis (12/11/2020).

Baca juga: Ini Jawaban Petani Arak di Karangasem Bali Ditanya RUU Minuman Beralkohol, Ini Masalah Isi Perut

Setelah itu, I Wayan Sukartana (26) asal Banjar/Desa Buruan, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali.

Ia berurusan dengan Satreskrim Polres Gianyar karena menjual arak 2,5 liter, Kamis (12/11/2020).

Setelah itu, Ida Bagus Putu Suarbawa (47) asal Banjar Kertawangsa, Desa Lodtunduh, Ubud.

Ia berurusan dengan Satreskrim Polres Gianyar karena kedapatan menjual arak sebanyak 600 ml.

Sementara Ni Nyoman Lipet (57) asal Banjar/Desa/Kecamatan Tegalalang berurusan dengan Satreskrim Polres Gianyar karena menjual tiga botol arak dengan total berat 600 ml, Sabtu (7/11/2020).

Kelima orang warga tersebut berurusan dengan kepolisian karena dalam menjual arak tidak dilengkapi izin. 

Baca juga: 600 KK Petani Arak di Tri Eka Buana Karangasem Terancam Nganggur Jika RUU Larangan Minol Disahkan

Sosialisasi Perda tentang arak kurang

ilustrasi
ilustrasi (istimewa)

Dalam persidangan terungkap, para penjual arak ini memang minim pengetahuan tentang Perda mikol.

Mereka hanya tahu bahwa saat ini arak sudah legal.

Apalagi, para terdakwa yang kesulitan ekonomi di tengah pandemi ini, memilih menyambung hidup dengan berjualan arak.

Baca juga: Artis Vanessa Angel Menangis Dengar Vonis Hakim, Suami: Ini Sangat Berat

Wawan menilai para terdakwa ini kurang mendapatkan penjelasan detail dari sosialisasi Perda minuman tradisional Bali (arak dan tuak) oleh pemerintah.

Selama ini masyarakat hanya mengetahui bahwa arak sudah legal.

Mereka tak mengetahui adanya batasan-batasannya.

“Ada beberapa prosedurnya tetapi semestinya ada sosialisasi ke masyarakat agar tidak terjadi kebuntuan. Kasihan masyarakat kalau begini," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved