Breaking News:

Terbukti Setubuhi Anak di Bawah Umur, Hakim Jatuhi Pidana Bui 13 Tahun Penjara Terhadap Murdika

Pak Jacky (42) telah dijatuhi pidana penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.

Penulis: Putu Candra
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Net
Ilustrasi Setubuhi Anak di Bawah Umur 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Terdakwa kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur, Ketut Murdika alias Pak Jacky (42) telah dijatuhi pidana penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.

Di persidangan yang digelar secara virtual, majelis hakim pimpinan Hakim Kony Hartanto menjatuhkan pidana bui selama 13 tahun penjara.

Putusan yang dijatuhkan majelis hakim ini sama dengan tuntutan yang dilayangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU). 

"Terdakwa (I Ketut Mardika alias Pak Jacky) sudah dijatuhi hukuman penjara selama 13 tahun dan denda Rp. 100 juta subsider tiga bulan penjara. Putusan hakim sama dengan tuntutan jaksa," jelas Aji Silaban selaku penasihat hukum dari Pos Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar saat dikonfirmasi, Jumat (20/11/2020). 

Baca juga: Galang Dana, STT Bina Warga di Ubud Gelar Lomba E-Sport dan Tari Virtual

Baca juga: Sambangi Bold Riders NTB, FRC Bali Tempuh Rute 1.500 Kilometer

Baca juga: Kiat-kiat Mengatasi Morning Sickness di Rumah

Terhadap putusan itu, kata Aji Silaban, baik terdakwa maupun Jaksa I Made Santiawan sama-sama menerima.

"Terdakwa menerima dan langsung kami sampaikan ke majelis hakim. Jaksa juga menerima putusan itu," terangnya.

Sementara dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan, perbuatan Murdika telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut. 

Sebagaimana dakwaan alternatif kesatu, terdakwa dijerat Pasal 81 ayat (2) UU RI No.17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU RI No.1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. 

Diungkap perbuatan terdakwa terhadap korban berinisial BHD, yang masih berusia 12 tahun terjadi sepanjang bulan Maret hingga 26 Juni 2020.

Perbuatan bejat terdakwa ini baru diketahui setelah salah satu saksi berinisial ES yang merupakan kakak kandung korban menemukan pesan singkat di handphone korban. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved