Serba Serbi
Catur Asrama Umat Hindu, Ini Kata Ida Pedanda Gde Keniten
Ida Pedanda Gde Keniten menjelaskan bahwa umat Hindu harus menjalani Catur Asrama dalam hidupnya
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Dan bagian terakhir, adalah Bhiksuka atau Sanyasin.
"Inilah tujuan umat Hindu hidup di dunia," jelas Ida pedanda.
Pada masa Brahmacari seseorang harus belajar dan menyelesaikan pendidikan.
Namun pada masa ini, juga harus disesuaikan dengan kemampuan dari keluarga, khususnya orangtua.
"Walau tidak bisa menuntut ilmu ke jenjang lebih tinggi, namun seseorang tidak boleh putus asa," tegasnya.
Setelah selesai menuntut ilmu, seseorang harus menikah dan membina rumah tangga.
Baca juga: Aura Magis Pura Melanting Jambe Pole di Taman Festival Bali, Ada yang Mohon Kesembuhan hingga Jodoh
Baca juga: Tempat Mohon Keturunan hingga Kesembuhan, Pura Melanting Jambe Pole Didatangi Warga hingga Pejabat
"Lalu memiliki anak dan cucu. Maka muncullah Asrama ketiga yakni Wanaprasta. Seseorang akan memasuki alam sunia," jelasnya.
Pada zaman dahulu, seseorang yang Wanaprasta akan bertapa ke tengah hutan, menenangkan diri.
Namun zaman kini, karena hutan juga tidak banyak, maka Wanaprasta bisa diartikan melepaskan hawa nafsu keduniawian.
Tenang berada di dalam rumah dan instrospeksi diri.
Mencari jati diri yang paling dalam.
Setelah itu, akan muncul tahap Bhiksuka.
Pada tahap Bhiksuka ini, seseorang akan mengabdikan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan jalan menyebarkan ajaran-ajaran kesusilaan.
Bagi orang yang telah menjalankan hidup Bhiksuka, maka telah mampu menundukkan musuh-musuh yang ada dalam dirinya, seperti Sad Ripu, Sapta Timira, Sad Atatayi, dan Tri Mala, dan lain sebagainya.
Ida pedanda menegaskan, Bhiksuka adalah hak prerogatif semua orang tanpa terkecuali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ida-pedanda-gde-keniten-mna.jpg)