Serba Serbi
Catur Asrama Umat Hindu, Ini Kata Ida Pedanda Gde Keniten
Ida Pedanda Gde Keniten menjelaskan bahwa umat Hindu harus menjalani Catur Asrama dalam hidupnya
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
"Semua umat lapisan mana pun, silakan mencari tahap Bhiksuka ini. Tetapi jelas dalam prosesnya ada aturan atau di Bali dikenal dengan awig-awig," kata beliau.
Baca juga: Wisata Religi Unggulan, Pura Campuhan Windhu Segara Disambangi Kemenparekraf
Baca juga: Pawisik yang Menyembuhkan I Gede Alit Adnyana Hingga Membangun Pura Campuhan Windhu Segara Denpasar
Proses tersebut dikenal dengan proses madwijati dan menjadi seorang sulinggih.
Namun jika tidak sampai ada tahap Bhiksuka, maka seseorang pada saat meninggal dan dalam upacara ngabennya akan dilakukan prosesi Prabawa.
"Makanya ada prosesi pengaskaran atau ngaskara saat ngaben. Itu adalah proses mabersih, yakni setelah meninggal dibersihkan supaya kembali ke alam Siwa," sebut beliau.
Apalagi setelah menjadi sulinggih, seseorang memiliki banyak sekali pantangan.
Tidak boleh keluar rumah sembarangan, pergi sesuka hati, makan seenaknya, dan pantangan lainnya.
Namun bagi seseorang yang tidak bisa memasuki tahap Bhiksuka, khususnya menjadi sulinggih, maka pada saat meninggal akan disempurnakan dengan prosesi dan banten pengaskaran.
Dwijati, jelasnya, adalah hidup yang kedua kalinya.
Setelah seseorang melalui proses pembersihan diri, berbentuk Siwa dalam wujud nyata.
Untuk itu, Sulinggih memiliki banyak batasan yang harus dipatuhi.
Salah satunya tidak pergi ke sembarang tempat.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ida-pedanda-gde-keniten-mna.jpg)