Serba Serbi

Tata Cara Pembuatan dan Pemanfaatan Ramuan Dalam Usada Bali

“Tata cara pengolahannya, bahan ramuan diambil sari patinya dengan memeras. Lalu bahan ramuan yang keras digiling halus terlebih dahulu lalu dicampur

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Noviana Windri
IST/farmasi.unpad.ac.id via Tribun Jogja
Ilustrasi Obat tradisional 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pengobatan tradisional Bali, atau disebut usada kini kian menggeliat lagi. Khususnya di tengah pengobatan modern, dengan berbahan kimia.

Kepercayaan masyarakat akan pengobatan bahan-bahan alami, kian menguat belakangan ini.

Anak Agung Putu Agung Mediastari, mengamini hal ini.

Khususnya dalam disertasinya yang berjudul ‘Pengobatan Usada Dalam Perawatan Bayi dan Ibu Pasca Persalinan Pada Era Postmodern di Kota Denpasar’.

Dosen UNHI ini menjelaskan, tata cara pembuatan dan pemanfaatan ramuan dalam Usada Bali.

Baca juga: Kumis Kucing dalam Usada Bali Bisa Obati Batu Ginjal, Begini Cara Memanfaatkannya

Baca juga: Manfaat Air dan Pasir Laut Dalam Usada Bali untuk Penyembuhan

Baca juga: Berasal Dari Weda, Usada Bali Pengobatan Tradisional Rakyat Bali Sejak Dahulu

Pertama ada namanya tutuh/pepeh, yang berbentuk cairan sari pati.

“Tata cara pengolahannya, bahan ramuan diambil sari patinya dengan memeras. Lalu bahan ramuan yang keras digiling halus terlebih dahulu lalu dicampur sedikit air, diremas-remas kemudian diperas dan disaring,” jelasnya kepada Tribun Bali, Senin, 18 Januari 2021. 

Kemudian, apabila dimanfaatkan minyaknya bahan ramuan bisa digoreng dengan api kecil. 

Kedua adalah boreh, dapat disamakan dengan parem berbentuk serbuk halus.

Yang dalam penggunaannya dicampur dengan cairan seperti air, cuka, arak api, atau  alkohol.

Cara pengolahannya, semua bahan ramuan kecuali yang berupa cairan, terlebih dahulu digiling halus dan tidak usah diperas.

Jika diperas biarkan tetap seperti serbuk  halus. Cara pemanfaatannya, obat yang telah selesai diolah, langsung diparemkan merata pada anggota badan.

“Pada bagian perut tidak dikenakan kadang-kadang ada tambahan pengolahan lanjutan, yaitu sebelum obat parem digunakan terlebih dahulu harus dihangatkan seperlunya direbus atau didadah,” ucapnya. 

Ketiga adalah loloh, berbentuk cairan saripati yang agak lebih pekat dibanding dengan obat tutuh. Cara pengolahan kecuali bahan berbentuk cairan, terlebih dahulu digiling seperlunya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved