Serba serbi
Usada hingga Lontar Penerang Cegah Hujan Turun, Ini Isi Ruang Lontar Dinas Kebudayaan Bali
Bagi kalangan mahasiswa, khususnya yang jurusan berkaitan dengan agama Hindu atau bahasa dan sastra Bali, perpustakaan lontar
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Bagi kalangan mahasiswa, khususnya yang jurusan berkaitan dengan agama Hindu atau bahasa dan sastra Bali, perpustakaan lontar di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, tidaklah asing.
Namun bagi masyarakat awam kebanyakan, perpustakaan lontar ini belum banyak yang tahu dan paham isi di dalamnya.
Jika pengunjung masuk ke dalam, akan terlihat rak kaca penuh dengan lontar di dalamnya.
Berbagai lontar dengan berbagai judul ada di ruang lontar, Dokbud Disbud Bali.
Mulai dari usada, kanda, babad, purana, dan lain sebagainya.
Baca juga: Lontar Kunti Sraya Putus untuk Menangkal Wabah Penyakit di Bali, Apa Saja yang Harus Dihaturkan?
Baca juga: Kerap Dianggap Tenget, Penyuluh Bahasa Bali Minta Masyarakat Jangan Takut pada Lontar
Baca juga: Penyuluh Bahasa Bali Lakukan Konservasi Lontar di Payangan Gianyar
Ni Putu Seni, Pustakawan Ahli Madya, menjelaskan bahwa lontar-lontar ini tidak bisa dibawa pulang.
“Ada sekitar 2.500 cakep lontar yang sudah saya data, sisanya masih seperlima belum didata,” jelasnya kepada Tribun Bali, Selasa, 19 Januari 2021.
Wanita yang mulai bekerja 1999 ini, menjelaskan bahwa seluruh lontar masih diklasifikasikan dengan tepat.
Agar terdata dan ketika dicari tidak tercampur satu dengan yang lainnya.
“Lontar yang tebal banyak, biasanya yang tebal itu berbentuk geguritan atau kekawin. Seperti Ramayana, dengan bentuk cerita yang agak panjang,” imbuh sarjana Jawa Kuno yang tamat 1990 ini.
Baca juga: Penyuluh Identifikasi Lebih dari 800 Lontar di Klungkung, Mulai Lontar Pengobatan Hingga Ilmu Hitam
Baca juga: Penyuluh Bahasa Bali di Karangasem Gelar Konservasi Lontar,Ada yang Berusia 60 Tahun & Dimakan Rayap
Lanjutnya, ada pula lontar yang pendek berukuran sekitar 15-20 Cm.
Biasanya lontar-lontar pendek ini adalah lontar kawisesan.
Pada zaman dahulu, dibawa oleh orang di kantongnya sehingga dibuat pendek dan mudah masuk kantong atau saku.
Sedangkan untuk lontar yang panjang, ada sampai berukuran 60 Cm.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suasana-ruangan-lontar-di-dokbud-disbud-bali.jpg)