Breaking News:

Berita Klungkung

Gabah Petani Baru Terserap Hanya 7 Persen, Pemkab Klungkung Bali Evaluasi Program Bima Juara

"Saya terus memantau perkembangan KUD yang membeli gabah petani, dan peningkatannya masih  kurang bagus," ujar Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, Rabu

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Noviana Windri
Istimewa
Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengunjungi langsung KUD Jaya Werdhi di Desa Takumung Takmung untk evaluasi program Bima Juara. 

TRIBUN.BALI.COM SEMARAPURA - Pemkab Klungkung melakukan evaluasi terhadap program Bima Juara (Beli Mahal jual Murah).

Untuk melihat langsung perkembangan program tersebut, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengunjungi langsung KUD Jaya Werdhi di Desa Takumung Takmung.

Progam Bima Juara merupakan program yang diupayakan oleh Pemkab Klungkung untuk mensejahterakan petani lokal.

Konsepnya gabah petani diupayakan dibeli KUD dengan harga yang relatif diatas harga yang ditentukan pemerintah.

Lalu beras dijual oleh KUD dengan harga pasaran.

Arak Fermentasi Gula Beredar, Petani Arak Berbahan Tuak di Karangasem Bali Mengeluh Tak Laku

Resmi Dilaunching, Agro Learning Center Diharapkan Jadi Wadah Bagi Para Petani Dalam Berinovasi

Petani Garam di Amed Karangasem Tak Beroperasi Sementara Karena Cuaca Buruk

Hal ini untuk melindungi petani dari tengkulak, yang biasanya berusaha mengambil keuntungan lebih dan merugikan petani. 

"Saya terus memantau perkembangan KUD yang membeli gabah petani, dan peningkatannya masih  kurang bagus," ujar Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, Rabu 3 Februari 2021.

Menurutnya, dari total gabah yang dihasilkan petani lokal, baru sekitar 7 persen yang mampu diserap oleh KUD untuk disalurkan ke Kabupaten Klungkung.

 "Inilah yang perlu kita sikapi dan perlu kerjasama kita dengan baik. Pengurus KUD harus menguatkan modalnya, dan menguatkan sumberdaya manusianya," jelas Suwirta

Ia juga mengingatkan agar KUD tidak bermain-main saat membeli gabah ke petani. 

"Saya ingatkan kepada KUD, kalau beli gabah ke petani dengan harga 4000/kg, maka yang sampai ke masyarakat harus 4000/kg. Jangan sampai KUD menggunakan jasa pihak ketiga lagi untuk membeli gabah," tegas Suwirta yang juga penggagas inovasi Bima Juara ini. 

Menurutnya jika program itu berjala baik yakni, petani mendapatkan harga jual gabah yang lebih tinggi, KUD dapat mengambil untung dari  volume usaha dan masyarakat mendapatkan beras dengan harga murah.

Wajar Harga Cabai Rawit Mahal, Petani Sudah Rugi Selama Dua Musim Tanam

Seorang Petani di Rendang Karangasem Habisi Nyawanya Dengan Gantung Diri

Petani di Tabanan Mulai Lirik Budidaya Porang, Manfaatkan Lahan Tidur hingga Tembus Pasar Ekspor

Pemerintah juga menurutnya harus melakukan pendekatan dan kebijakan-kebijakan agar output dari beras lokal yang ada di KUD bisa terjual ke para PNS, Koperasi, Supermarket dan Bumdes dengan harga dibawah harga pasar. 

"Kalau menggunakan beras lokal dengan kualitas yang bagus dan dibantu pemasarannya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, maka petani kita akan terbantu," jelasnya.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved