Virus Corona
Mengenal Cabinfever, Kondisi yang Mengintai Para Pasien Covid-19
Di rumah sakit sendiri, cabinfever rentan dialami oleh pasien dengan penyakit menular atau salah satunya Covid-19.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Di tengah Pandemi Covid-19, banyak orang yang terkonfirmasi positif harus melakukan isolasi diri untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.
Dan biasanya beberapa orang yang melakukan isolasi rentan mengalami Cabinfever.
Cabinfever merupakan emosi atau perasaan cemas yang muncul ketika seseorang terisolasi cukup lama pada ruangan tertutup.
Di rumah sakit sendiri, cabinfever rentan dialami oleh pasien dengan penyakit menular atau salah satunya Covid-19.
• Ruang Khusus di RSUD Buleleng Ini Bisa Serap Partikel Virus dari Pasien Covid-19, Dipakai Siang Ini
Pada umumnya, orang yang mengalami cabinfever merasakan emosi sedih, cemas, bosan, gelisah, hingga merasa dirinya terasingkan.
Ketika dikonfirmasi staf khusus Consultation Liaison Psychiatry, dr. Ida Ayu Kusuma Wardani, SpKJ(K), MARS mengatakan secara fisik Covid-19 memang pada organ dalam yaitu menyerang paru-paru.
Karena yang terpapar paru-paru, dokter penanggung jawab pasien (DPJP) adalah dokter spesialis paru.
Namun, pada kenyataannya pasien Covid-19 secara mental belum menerima kondisinya dan situasi seperti itulah yang membutuhkan seorang psikiater.
“Kami sudah ada standar prosedur operasional (SPO) di setiap ruangan. Apabila pasien mengalami gangguan tidur atau cemas saat diwawancarai dokter paru atau perawat, itu disarankan untuk dikonsulkan ke psikiatri.
Tujuannya untuk mempercepat agar pasien tersebut tidak terlalu lama diopname di ruangan tertutup,” ungkap, Kusuma pada, Sabtu 6 Februari 2021.
Ia juga mengatakan, terlebih adanya aturan untuk keluarga pasien Covid-19 yang tidak diperbolehkan menjenguk menimbulkan rasa kesendirian bagi pasien.
Pasien seolah-olah terasingkan dan hal ini menimbulkan gejala cabinfever.
Dalam penanganannya tergantung gejala yang muncul. Bisa melalui konsultasi maupun dengan pemberian obat sesuai kondisi pasien.
“Katakan saja mengalami kesulitan tidur, kita evaluasi tanyakan susah tidurnya itu bagaimana. Ada yang mengaku sulit tidur karena tidak biasa opname tanpa ditunggui keluarga. Rasanya sendiri, jauh dari siapapun dan apapun.
Biasanya kalau opname selalu ditunggui saudara, banyak yang jenguk, dipijat kaki, sekarang tidak boleh karena Covid-19,” katanya.
• Penelusuran Kontak Pasien Covid-19 di Bali Mulai Dekati Standar WHO
“Pada pasien seperti itu diterangkan baik-baik. Kami ajak untuk mencari jalan keluarnya dan beri pengertian agar menerima kondisi pasien sendiri.
Kemudian diajak melatih pernapasan karena ini hubungannya ke paru-paru. Jadi tarik napas melalui hidung dan embuskan melalui mulut. Itu dilatih pelan-pelan,” sambungnya.
Menurutnya sugesti ini penting karena pandemi atau wabah merupakan hal yang tak bisa dihindari.
Berbeda halnya dengan bencana alam seperti tsunami atau gempa bumi.
“Misalnya bencana alam seperti itu kita bisa lari ke tempat yang tinggi. Tapi kalau wabah ini kita mau lari kemana itu tidak bisa.
Jadi ini cukup berat, sehingga kita selalu mengingatkan untuk mengubah perilaku manusia agar mengikuti program kesehatan pemerintah.
Nah, mengubah perilaku ini perlu proses panjang. Ada yang bisa percaya ada yang tidak. Mengubah perilaku merupakan tantangan yang cukup berat,” tambahnya.
Hingga saat ini, ia mengatakan, tidak ada penolakan dari pasien. Karena mereka membutuhkan bantuan tersebut agar secara mental dapat menerima kondisinya.
“Contoh lain lagi bagi pasien yang mengalami kesulitan tidur. Kondisi seperti itu yang bisa meresepkan obat tidur adalah psikiater. Dan pasien tidak masalah dikonsulkan psikiater.
Tugas psikiater adalah mengubah cara pikir dia bahwa kondisi ini hanya berlangsung sementara,” jelasnya.
Pemberian psikiater tidak pada semua pasien Covid-19. Melainkan hanya pada pasien yang memunculkan gejala seperti kesulitan tidur, cemas, dan yang kerap berhalusinasi.
• Rumah Sakit di Bali Diminta Naikkan Kapasitas Tempat Tidur Pasien Covid-19 Sebesar 30 Persen
Hal ini lantaran setiap pasien memiliki kepribadian berbeda.
Disebutkannya pada pasien berkepribadian dewasa, akan jauh lebih mudah mengerti bahwa kondisinya hanya sementara.
Namun tak jarang ada pasien dengan kondisi yang kacau.
Pasien tersebut biasanya berhalusinasi hingga mengganggu lingkungan di sekitarnya. Kondisi seperti itu pasti dikonsultasikan ke psikiater.
“Oh, banyak (pasien berhalusinasi), makanya kami ada beberapa ruangan seperti ruangan khusus. Karena ada beberapa yang komorbid.
Kalau yang komorbid kami sudah mengantisipasi bahwa pasien tersebut bisa menghasilkan halusinasi visual. Kalau halusinasi visual itu bisa mengganggu teman.
Jadi misalnya melihat orang dan berbicara sendiri padahal tidak ada siapa-siapa, itu bisa mengganggu yang di sebelahnya,” terangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pasien-covid-19-saat-dirawat-di-rsud-klungkung.jpg)