Berita Badung

Pengolahan Sampah Jadi Pupuk di Desa Adat Bindu Badung Bali, Dimanfaatkan Subak Setempat

Pengolahan sampah di Desa Adat Bindu bisa disebut berhasil. Sampah yang diolah pun menjadi berkah dengan dimanfaatkan oleh subak setempat. 

ist
Bendesa Desa Adat Bindu, I Gusti Nyoman Suastawa (kiri) saat melihatkan hasil panen padi dengan menggunakan pupuk kompos hasil olahan sampah masyarakat, Jumat 16 April 2021 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Pengolahan sampah di Desa Adat Bindu bisa disebut berhasil.

Sampah yang diolah pun menjadi berkah dengan dimanfaatkan oleh subak setempat. 

Sampah yang menjadi sumber masalah bagi desa adat yang terletak di Desa Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung ini pun disulap menjadi rupiah.

Pasalnya sampah yang diolah menjadi kompos kini dimanfaatkan petani sebagai pupuk di sawah.

Bendesa Desa Adat Bindu, I Gusti Nyoman Suastawa mengatakan Desa Adat Bindu yang terdiri dari 277 kepala keluarga (KK)  telah mandiri dalam mengelola sampah.

Sampah yang dihasilkan masyarakat dulunya menjadi masalah, kini justru memiliki nilai jual tinggi. 

Volume Sampah di Karangasem Meningkat hingga 50 Persen Sejak 5 Hari Sebelum Galungan

DLH Bangli Akui Kekurangan Bak Penampungan Sampah, Pengadaan Diusulkan pada Anggaran Perubahan 2021

Tangani Sampah Plastik, Bupati Jembrana Tamba Jajaki Kerjasama dengan Investor

"Sekarang  sampah yang kami hasilkan menjadi salah satu sumber pendapatan. Karena kita di Desa Bindu berkomitmen untuk membangun budaya memilah sampah sebelum mengolah," ujarnya Jumat 16 April 2021.

Pengolahan sampah tersebut bermula dari banyaknya sampah yang dihasilkan masyarakat. Setelah diolah volume kompos yang dihasilkan juga sangat tinggi, sehingga dirinya memberanikan diri menjalin kerja sama dengan subak setempat. 

"Jadi saat ini, setidaknya ada 1,5 ton pupuk yang dihasilkan dari hasil pengolahan dan semuanya sudah terserap. Bahkan subak pun kini kurang," ujarnya.

Produksi kompos tersebut digunakan di Subak Gaga.

Bahkan pihak subak komitmen menggunakan secara bertahap.

Pihaknya pun mengaku membuat MoU antara Bendesa dan Pekaseh.

"Dengan adanya kerjasama,   seluruh Kompos TPS3 R Bhakti Pertiwi akan dipakai Subak yang luas lahannya sekitar 40 hektar," ungkapnya.

Kendati berhasil menyulap sampah menjadi rupiah, namun Gusti Suastawa mengakui penghasilan dari mengolah sampah bukan menjadi target desa.

Hanya saja semua itu adalah solusi untuk  membuat Desa Adat Bindu terbebas dari sampah

"Orientasi kita bukan profit. Targetnya adalah seluruh sampah di Bindu diolah. Namun, kalau produksi Kompos sampai kurang itulah artinya kesuksesan," tegasnya.

TOSS Centre Tidak Beroperasi Saat Galungan, Ini Perubahan Jadwal Pembuangan Sampah di Klungkung

Tangani Sampah Plastik, Bupati Jembrana Tamba Jajaki Kerjasama dengan Investor

Lebih lanjut Gusti Suastawa  berharap kompos yang dihasilkan dari sampah rumah tangga dan usaha ini kembali dimanfaatkan oleh masyarakat sendiri.

Dengan begitu masyarakat semakin sadar akan menjaga lingkungannya.

"Prinsipnya kedepan adalah bahwa kita bukan akan memenuhi keperluan Kompos Subak dan Krama Desa tetapi targetnya adalah seluruh produksi Kompos habis terkonsumsi oleh krama  sendiri," tungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved