Breaking News:

Myanmar

Obama Sedih Melihat Kekerasan di Myanmar yang Kian Memilukan

Barack Obama yang turut mempromosikan perubahan demokrasi Myanmar saat menjabat presiden, menyampaikan kegundahannya itu Senin 26 April 2021.

Editor: DionDBPutra
Rizal Bomantama/Tribunnews.com
Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama memberi salam kepada peserta Kongres Diaspora Indonesia keempat di Kota Kasablanka Main Hall, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu 1 Juli 2017. 

Kemudian, para jenderal membebaskan pemimpin demokrasi Aung San Suu Kyi dan mengizinkannya mencalonkan diri serta membuka tender energi dan telekomunikasi kepada perusahaan asing.

Presiden Obama ketika itu menanggapi perkembangan tersebut dengan mencabut embargo perdagangan dan sebagian besar sanksi bagi Myanmar.

Tindakan yang menurut beberapa pejabat AS saat itu, terlalu dini. Banyak sanksi dari AS telah diberlakukan kembali sejak kudeta.

Kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengatakan 3.431 orang telah ditahan karena menentang kudeta, termasuk Suu Kyi, yang menghadapi dakwaan yang dapat membuatnya dipenjara selama 14 tahun.

"Perhatian dunia harus tetap tertuju pada Myanmar, di mana saya dikejutkan oleh kekerasan yang menghancurkan hati terhadap warga sipil dan terinspirasi oleh gerakan nasional yang mewakili suara rakyat," kata Obama.

Kritik Kesepakatan ASEAN

Sementara itu, kelompok hak asasi manusia dan orang-orang di Myanmar telah mengkritik kesepakatan antara Min Aung Hlaing, jenderal yang merebut kekuasaan dalam kudeta militer dengan para pemimpin Asia Tenggara untuk mengakhiri krisis Myanmar.

Kesepakatan itu disebut gagal memulihkan demokrasi, dan meminta pertanggungjawaban tentara atas pembunuhan ratusan warga sipil.

Tidak ada protes langsung di kota-kota besar Myanmar sehari setelah kepala angkatan bersenjata Jenderal Min Aung Hlaing terbang ke Jakarta untuk bertemu dengan para pemimpin ASEAN, dan menyetujui rencana lima poin.

Menyerukan diakhirinya segera kekerasan dan kekerasan agar "semua pihak" menahan diri.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved