Berita Denpasar
Berdiri dari 1993, Museum Lukisan Sidik Jari Berusaha Bertahan di Tengah Pandemi
"Waktu itu 3 bulan ngga ada pengunjung," ucap Intan, satu-satunya pegawai yang ditemui di Museum Lukisan Sidik Jari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.
Penulis: Harun Ar Rasyid | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - "Waktu itu 3 bulan ngga ada pengunjung," ucap Intan, satu-satunya pegawai yang ditemui di Museum Lukisan Sidik Jari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.
Museum Lukisan Sidik Jari berlokasi beralamat di jalan Hayam Wuruk, Sumerta Kelod, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali.
Museum ini berlokasi persis di samping sebuah toko buku.
Jika tidak diperhatikan benar-benar mungkin lokasi museum ini akan terlewat.
Kecintaan terhadap pemilik museum terhadap seni dan karyanya membuat museum ini masih bertahan.
Bahkan di tengah badai pandemi yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, dengan tertatih-tatih museum ini bertahan.
Baca juga: Pertahankan Pegawainya Selama Pandemi, Agrowisata Alas Harum Bali Diapresiasi Sandiaga Uno
"Ya itu, paling lama waktu itu 3 bulan benar-benar nggak ada pengunjung," jelas Intan sembari mempersilahkan masuk dan menikmati mahakarya sang Maestro Lukisan Sidik Jari, Kamis 27 Mei 2021.
Dia melanjutkan, "untuk hari-hari ini, ya kadang ada yang datang, kadang nggak ada. Itupun yang datang hanya mahasiswa dan pelajar. Sebulan itu belasan orang lah yang datang."
Ia kemudian menjelaskan, I Gusti Ngurah Gede Pemecutan masih bisa ditemui di kediamannya.
Namun hari ini, Ia belum bisa ditemui, mengingat ia masih harus beristirahat.
Baca juga: Pandemi Covid-19 di Bali Memukul Mata Pencaharian Perajin Kendang di Gianyar
Intan kemudian mengisahkan mengenai sejarah berdirinya museum Lukisan Sidik Jari.
Dari keterangannya, museum ini pertama kali berdiri pada tahun 1993.
Bentuk awal bangunan museum ini masih sangat sederhana yaitu terbuat dari bambu. Tahun 1997 barulah museum ini dibuka untuk umum.
"Nah kalo penemuan teknik lukisan sidik jari ini beda lagi, itu tahun 1962," kisahnya.
Dari buku Otobiografi dan beberapa sumber yang intan perlihatkan di museum, awal mula penemuan lukisan sidik jari bermula ketika I Gusti Ngurah Gede Pemecutan melukis mengenai Tari Baris, kebosanan yang melanda membuat dirinya melakukan goresan-goresan acak dengan jarinya.
Namun, bukannya tidak membentuk pola, goresan-goresan acak tangannya ternyata membentuk sebuah objek.
Baca juga: Setahun Pandemi, Penjualan Rumah Subsidi Naik 20 Persen
Dari situlah ia mulai melukis dengan menggunakan ujung-ujung jarinya. Inilah yang kemudian yang dikenal dengan sebutan lukisan sidik jari.
Dalam karya seni lukis, metode melukis dengan ujung jari/sidik jari ini juga biasa dikenal dengan teknik pointilis.
Karya-karya yang ada di Museum Lukisan Sidik Jari merupakan murni karya dari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.
Setidaknya, ada sekitar 666 karya yang pernah ia kerjakan.
Lukisan terakhir yang ia kerjakan adalah lukisan sidik jari tahun 2011.
Dari jumlah, 666 karya yang ia kerjakan, setidaknya sekitar 200 lukisan masih bisa dinikmati secara cuma-cuma.
Baca juga: Industri Baju Barong Khas Bali Terseok Akibat Pandemi, Parwata: Yang Penting Bisa Menyambung Hidup
Lukisan yang paling berkesan tentu adalah lukisan Perang Puputan Badung.
Lukisan ini juga menjadi karya dengan ukuran terbesar.
Selain itu, Intan menerangkan bahwa pengerjaan lukisan Perang Puputan Badung memakan waktu hingga 18 bulan.
Lukisan ini menjadi menarik bukan hanya karena ukuran dan proses pembuatannya, namun jika diperhatikan dengan seksama bagian kanan bawah lukisan ini terdapat seorang yang sedang menggendong anaknya di balik pohon ketika perang sedang berlangsung.
Beberapa orang menafsirkan, karakter tersebut merupakan karakter pangeran Raja Badung yang akan meneruskan kerajaan.
Kamis 27 Mei 2021 pukul 15.20 menjelang museum akan tutup dan tim Tribun Bali yang akan mengisi buku tamu, sedikit terkejut, tim Tribun Bali merupakan pengunjung pertama setelah sekitar 2 minggu tanpa kunjungan.
Trik menikmati Lukisan Sidik Jari adalah dengan mengamatinya dari jarak yang agak sedikit jauh.
Jarak yang terlalu dekat akan mengaburkan objek pada lukisan.
Selain melukis, I Gusti Ngurah Gede Pemecutan juga menulis.
Beberapa karya autobiografi mengenai beliau bisa ditemukan di Museum.
Bahkan dirinya pernah diganjar Piagam Penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai Pelopor Teknik Melukis dengan Sidik Jari, dan Kolektor Sidik Jari 1.507.725 Sidik Jari Pribadi Pelukisnya Sendiri pada Juli 2012 di Semarang. Beberapa penghargaan lain juga dipajang di rak-rak kaca yang ada di Museum.
Di tengah pandemi yang masih berkecamuk, museum ini memilih untuk terus bertahan.
Perawatan dan pemeliharaan museum masih ditanggung sendiri oleh I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.
Kecintaannya terhadap seni dan karya-karya yang ia miliki membuat museum ini masih bisa dikunjungi hingga sekarang.
Akan tetapi, terkadang, Intan merasa pemerintah perlu untuk turut campur dalam hal pemeliharaan karya-karya yang ada di Museum Lukisan Sidik Jari.
"Pemerintah seharusnya memberikan perhatian sih," kata Intan.
Namun, tanpa harus menunggu uluran bantuan pemerintah, masyarakat bisa datang, berkunjung ke museum ini, memberikan sedikit donasi mungkin, setidaknya untuk Mendukung Museum ini Bertahan di Kala Pandemi. (*)
Berita lainnya di Berita Denpasar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/situasi-museum-lukisan-sidik-jari-jalan-hayam-wuruk-denpasar.jpg)