Breaking News:

Berita Kesehatan

Terapi EECHP, Disarankan untuk Penderita Penyakit Jantung yang Tidak Bisa Berolahraga

Tak lagi selalu menggunakan obat-obatan untuk kesembuhan pasien, kini teknologi kedokteran juga menawarkan beberapa metode yang berbentuk terapi.

centralgaheart.com via Grid.ID
Terapi EECHP, Disarankan untuk Penderita Penyakit Jantung yang Tidak Bisa Berolahraga 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dewasa ini, teknologi kedokteran berkembang pesat.

Tak lagi selalu menggunakan obat-obatan untuk kesembuhan pasien, kini teknologi kedokteran juga menawarkan beberapa metode yang berbentuk terapi.

Salah satunya yakni terapi Enhanced External Heart Counterpulsation (EEHCP).

Terapi ini pada awalnya difungsikan untuk pasien yang tidak bisa turun dari tempat tidur.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, terapi tersebut digunakan untuk pasien dengan riwayat penyakit jantung.

Baca juga: Selain Bedah Jantung, RSUP Sanglah Denpasar juga Siapkan Layanan Dermatokosmetik untuk Wisata Medis

Ketika dikonfirmasi, Direktur Klinik integratif BHCC Denpasar, Drs. Sufendi Tjuatja (Mr.Chai) menjelaskan bahwa, terapi EEHCP mempunyai efek memperbaiki fungsi endotel (sel-sel dinding pembuluh darah), merangsang pembentukan pembuluh darah kolateral di jantung, meningkatkan fungsi ventrikel kiri jantung. 

"Selain itu, terapi ini juga memberikan efek fisiologi seperti pada saat melakukan olahraga. Hal ini bisa terjadi karena ada peningkatan curah jantung dan peningkatan perfusi darah ke organ-organ seluruh tubuh, 30 persen ke otot jantung, 20 persen ke otak, 25 persen ke hati, 20 persen ke ginjal, dan 5 persen ke organ-organ yang lainnya," paparnya pada, Sabtu (5 Juni 2021). 

Karena itu menurutnya terapi ini sangat dianjurkan bagi yang tidak bisa berolahraga secara langsung, khususnya karena menderita penyakit jantung.

Baca juga: 4 Makanan dan Minuman Ini Sangat Baik Untuk Menurunkan Risiko Penyakit Jantung, Apa Saja Itu?

Terapi EEHCP juga sangat membantu bagi penderita pasca operasi, seperti, angioplasty (PTCA, dibalon), 15 hari setelah operasi melakukan terapi EEHCP dapat mencegah atau memperlambat proses terjadinya penyempitan kembali pembuluh koroner. 

"Selain itu, juga berguna untuk pasca bypass (CABG, bedah pintas koroner), disarankan sebaiknya terapi EEHCP dilaksanakan 6 hari setelah pembedahan."

"Adapun cara kerja dari terapi ini adalah menggunakan sumber tekanan yang diatur secara komputerisasi, mengembang-kempiskan serangkaian manset di sekeliling betis, paha bagian bawah dan paha bagian atas, sesuai dengan denyut jantung penderita," lanjutnya. 

Baca juga: MANFAAT Puasa Ramadhan bagi Kesehatan, Menurunkan Berat Badan hingga Memulihkan Fungsi Jantung

Sehingga pada saat pengembangan manset secara bertahap, tekanan yang ditimbulkan menyebabkan tekanan diastolik meningkat serta, perfusi di dalam arteri koroner dan jantung meningkat dan juga nantinya akan meningkatkan jumlah darah balik dari anggota tubuh bawah ke jantung. 

"Sementara pada saat pengempisan manset yang cepat dan bersamaan, menyebabkan tekanan pembuluh darah sistemik menurun sehingga ketegangan pada otot jantung pun berkurang."

"Hal ini mengakibatkan kebutuhan oksigen oleh otot jantung berkurang, sehingga kerja jantung menjadi lebih ringan," tambahnya. (*) 

Berita lainnya di Berita Kesehatan

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved