Virus Corona

Terdeteksi di 80 Negara, Covid-19 Varian Delta Disebut Memiliki Gejala yang Berbeda

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Covid-19 varian delta telah terdeteksi di lebih dari 80 negara dan terus bermutasi saat menyebar

Pixabay
Ilustrasi Covid-19 - Terdeteksi di 80 Negara, Covid-19 Varian Delta Disebut Memiliki Gejala yang Berbeda 

TRIBUN-BALI.COM - Virus corona B.1.617.2 atau varian delta yang awalnya ditemukan di India, kini keberadaannya mulai menyebar ke seluruh dunia, hingga menjadi strain dominan di beberapa negara seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Varian ini juga sudah ditemukan di beberapa wilayah Indonesia.

Pada hari Rabu (16/6/2021), Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) mengatakan Covid-19 varian delta telah terdeteksi di lebih dari 80 negara dan terus bermutasi saat menyebar.

Penelitian telah menunjukkan bahwa varian ini lebih menular daripada varian lainnya.

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak di Denpasar, 30 Orang Jalani Rapid Antigen Acak di Lapangan Puputan Badung

Menurut para ilmuwan, data menunjukkan varian delta sekitar 60 persen lebih mudah menular daripada varian alpha yang sebelumnya ditemukan di Inggris.

Membuat mereka yang terinfeksi varian ini lebih mungkin dirawat inap, seperti yang terlihat di beberapa negara termasuk Inggris.

Tak hanya itu, gejala yang ditimbulkan oleh varian delta ini disebut memiliki perbedaan dengan gejala dari virus SARS-CoV-2 lain yang kita ketahui.

Gejala varian delta

Selama pandemi, otoritas kesehatan di seluruh dunia sering mengingatkan bahwa beberapa gejala utama Covid-19 adalah demam, batuk terus-menerus, serta kehilangan rasa atau penciuman.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) kemudian memperbarui daftar gejala antara lain kelelahan, nyeri otot, diare, dan sebagainya.

Namun, para ahli kesehatan mengungkapkan bahwa varian delta tampaknya menimbulkan berbagai gejala yang berbeda.

Seorang profesor epidemiologi genetik dari King's College London, Tim Spector kemudian menggagas studi ZOE Covid Symptom yang berbasis di Inggris.

 Studi tersebut memungkinkan masyarakat untuk memasukkan gejala Covid-19 mereka pada sebuah aplikasi agar para peneliti dapat menganalisanya.

 "Kami melihat gejala teratas dari pengguna aplikasi sejak awal Mei dan kebanyakan gejala tidak sama seperti sebelumnya," kata Spector.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved