Bagaimana Berkawan Secara Positif Dengan Stres? Begini Caranya Menurut Riset Ilmiah
Apakah stres akan berdampak negatif atau sebaliknya positif, kata McGonigal, tergantung pada anggapan dan keyakinan orang itu terhadap stres.
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Menurut penelitian McGonigal, lebih dari 20.000 orang meninggal dunia tiap tahun di Amerika akibat keyakinan yang salah tentang stres, yakni menganggapnya sebagai musuh berbahaya.
Sebaliknya, kita akan tetap sehat, selamat dan bahagia apapun kondisinya jika meyakini bahwa stres merupakan bagian dari kewajaran hidup sebagaimana silih bergantinya siang dan malam, sedih dan senang, gagal dan sukses, berjumpa dan berpisah dan seterusnya.
Ada saatnya suasana serba lapang, kadang pula dunia tiba-tiba terasa sempit.
Ada kalanya asyik berkumpul, ada waktunya pula menyendiri untuk lebih serius melakukan perenungan dan refleksi diri serta bermeditasi (ibadah).
Ada saatnya bertamasya, namun ada juga saatnya #dirumahsaja, yang semua itu diyakini sebagai hal yang normal kendati memicu stres.
Oleh karena itu, yang penting kini bukan lagi bagaimana kita menghilangkan atau mengurangi stres dalam kehidupan kita, tetapi bagaimana kita memiliki keyakinan bahwa stres itu tidak masalah bahkan baik, asalkan kita menanggapinya dengan tepat.
Kok bisa stres malah berdampak baik buat kesehatan dan kebahagiaan kita?
Para peneliti menjelaskan bahwa ini bermula dari salah-satu hormon yang diproduksi saat kita stres, yaitu hormon oxytocin.
Selain hormon yang bernama adrenalin, hormon yang juga keluar saat seseorang stres adalah oxytocin.
Hormon adrenalin bikin jantung kita memompa lebih kencang, Anda bernapas lebih cepat, dan Anda akan berkeringat.
Nah, McGonigal melihat hal-hal ini sebagai tanda bahwa seseorang tidak mengatasi stresnya dengan baik, atau menganggap bahwa stres itu negatif.
Sebaliknya, hormon oxytocin justru membuat jantung kita lebih kuat, pembuluh darah lebih lentur, sehingga tidak mudah kena serangan jantung atau stroke.
Ketika orang melihat stres sebagai sesuatu yang positif, pembuluh darahnya tidak menyempit. Respons tubuh terlihat lebih seperti penuh kegembiraan, dan merupakan isyarat bahwa tubuh sedang bersiap untuk bertindak, dan siap untuk menghadapi tantangan apa pun.
Oxytocin juga membuat kita jadi lebih ingin berinteraksi sosial dan berbuat baik kepada orang lain. Oleh karena itu, oxytocin disebut juga sebagai hormon pelukan (cuddle hormone).
Ketika dihadapkan pada pilihan antara pekerjaan yang membuat stres dan pekerjaan yang tidak terlalu membuat stres, Kelly menyarankan agar Anda mengikuti pekerjaan yang paling memberi makna (meaning) dan kita percaya diri untuk menangani stres yang diakibatkannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-stres.jpg)