Bagaimana Berkawan Secara Positif Dengan Stres? Begini Caranya Menurut Riset Ilmiah
Apakah stres akan berdampak negatif atau sebaliknya positif, kata McGonigal, tergantung pada anggapan dan keyakinan orang itu terhadap stres.
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Seperti kata Viktor E. Frankl, psikiater perintis logoterapi, di saat krisis orang berusaha menggapai makna (meaning) hidup.
Sebab, makna adalah kekuatan. Dan, daya bertahan hidup (survival) seseorang boleh jadi tergantung pada pencarian dan penemuannya akan makna hidupnya.
Untuk menemukan hidup yang optimal sekaligus bermakna (to live a full and meaningful life), apa yang diucapkan mendiang Steve Jobs boleh jadi sangat membantu.
Dalam sebuah kuliah umum untuk para mahasiswa baru di Stanford University pada 12 Juni 2005, pendiri Apple Inc. itu mengungkapkan pernyataan di bawah ini
’“I have looked in the mirror every morning and asked myself: 'If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today? 'And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.”
(“Setiap pagi saya melihat ke cermin dan bertanya pada diri sendiri: 'Jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya, apakah saya masih akan mengerjakan apa yang saya kerjakan hari ini?' Dan bilamana jawabannya adalah 'Tidak' selama beberapa hari berturut-turut, (maka) saya tahu bahwa saya harus melakukan perubahan.”)
Artikel ini bersumber dari buku-buku “Strong & Happy in The Time of Crisis” (Logos Village Publishing, 2020) dan buku “Healing The Soul” (Afzan Publishing, 2019) karya Ahmad Faiz Zainuddin, serta dilengkapi kutipan-kutipan dari artikel “Kelly McGonigal: How to Make Stress Your Friend” di www.tedsummaries.com, serta naskah pidato Steve Jobs di Stanford University.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-stres.jpg)