Bagaimana Berkawan Secara Positif Dengan Stres? Begini Caranya Menurut Riset Ilmiah

Apakah stres akan berdampak negatif atau sebaliknya positif, kata McGonigal, tergantung pada anggapan dan keyakinan orang itu terhadap stres.

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Hypnotherapy in Wales from Gaia Evalyn Love via Tribunnews
Ilustrasi -Stres memicu hal yang positif atau sebaliknya negatif tergantung pada anggapan seseorang tentang stres. 

TRIBUN-BALI.COM - Menteri Keuangan Jeman untuk negara bagian Hesse, Thomas Schaefer, pada 28 Maret 2020 lalu dilaporkan tewas bunuh diri di rel kereta api di kota Hochheim, karena cemas dan mengkhawatirkan terjadinya krisis ekonomi akibat wabah Covid-19.

Dalam situasi krisis kesehatan apalagi dibayangi krisis finansial saat ini, bisa dipastikan banyak orang mengalami kecemasan, sehingga ada di antara mereka yang memilih mengakhiri hidup daripada berusaha tegar menghadapi badai masalah.

Peliknya persoalan ekonomi diyakini seolah-olah merupakan beban yang tak tertanggungkan.

Bagi para pelaku bunuh diri, tidak peduli berpendidikan tinggi atau rendah, kaya atau miskin, rakyat biasa atau pejabat tinggi, krisis acapkali dipersepsikan sebagai jalan buntu.

Baca juga: Tanda-tanda Stres di Tubuh yang Kerap Tak Disadari, Diantaranya Muncul Benjolan Dan Gatal-gatal

Padahal, sebenarnya ada cara yang jauh lebih bermakna dan indah dalam menghadapi situasi berat seperti itu.

Berdasarkan hasil penelitian selama 8 tahun terhadap 30.000 orang dewasa di Amerika, Dr Kelly McGonigal, psikolog kesehatan dan pakar stres dari Stanford University, menyimpulkan bahwa stres tidak selalu berarti buruk dan negatif. Stres juga bisa berguna dan bermakna positif.

Penelitian tersebut mengajukan dua pertanyaan kepada 30.000 orang yang diteliti itu:

1. Seberapa banyak stres yang anda rasakan selama setahun terakhir?

2. Apakah anda percaya bahwa stres berbahaya untuk kesehatan anda?

Delapan tahun kemudian, dicek oleh McGonigal siapa saja di antara 30.000 orang itu yang meninggal lebih dulu, dan hasilnya : orang-orang yang banyak stres berisiko 43% lebih tinggi untuk meninggal lebih dulu.

Tetapi yang mengejutkan, risiko kematian lebih awal itu hanya terjadi pada orang stres yang juga percaya bahwa stres itu buruk bagi kesehatan mereka.

Sedangkan orang-orang yang juga banyak mengalami stres namun percaya bahwa stres tidaklah masalah dan tidak berdampak buruk pada kesehatan, mereka menjadi tidak berisiko meninggal cepat. Bahkan, pada mereka, risiko kematian cepat justru lebih rendah daripada orang yang tidak banyak stres sekalipun. 

Jadi, bukan stres itu sendiri yang bermasalah, tetapi bagaimana anggapan dan keyakinan kita tentang stres-lah ( stress belief) yang menentukan berbahaya atau tidaknya stres.  

Jika berkeyakinan bahwa stres harus dihindari, atau kalau stres diartikan kita sedang dalam kondisi bahaya serta merasa terancam, cemas sekaligus mengkhawatirkan stresnya, maka stres di sini memang sesuatu yang negatif dan bisa membuat seseorang lebih cepat mati.

Baca juga: Cegah Tindakan Bunuh Diri, Masyarakat Diharapkan Mampu Kelola Manajemen Stres, Ini Kata Psikiater

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved